Selasa, 11 Desember 2018

TERPOJOK DALAM LAUTAN SUNYI IBU PERTIWI



Betapa rindu telah membiru dan bernyanyi pada hempasan gelombang…!
Riak bertabur buih impian, bertemu dipermukaan, menari mengikuti irama angin

Kupejamkan mata, agar Kilauan wajah syahdumu tak menghampiri kenangan, tapi tak kuasa.
Nyanyian rindu tetap menghempas, pada tepian nalarku hingga senyap menyentuh malam.

Redup dalam sepi.
Tiba-tiba langit bergetar menggelegar
Rebah dedaunan, dihinggapi ratapan yang tak tertahankan

Tahukah engkau IBU PERTIWI.?
Rintihan tangisan langit yang menahan rindu
Rindu yang dipeluknya berurai air mata karna ANAK BANGSA TAK LAGI BERSATU

Lembut bumi dalam pijakan
Mengalir senda gurau yang tertahan
Terbenam dalam pelukan alam bersama surya menyinari INDONESIAKU

Pejamkan mata, rasakan
Langit mengenangmu dalam rindu.
Dari hati kecil yang bersemayam, mencoba membesarkan jiwa dalam lautan rindu seruan REVOLUSI.

Dengan tulus memohon maaf pada sahabat sejati yg merasa ditinggalkan, pada jiwa yang merasa tak dimengerti.
Sesungguhnya kesunyian lah yang kini menemani akan kehilangan para fanding father bangsa.

Pagi yang bersua nyanyikan lagu rindu tentang pejuang dulu, dan embun yang membasuh permukaan bumi dengan kasih sayang.
Nyanyian kecil kenari menanti mentari dan aku membuka mata dari mimpi yang membuai.

Bangunlah asa dari peraduannya, berdiri
Lalu tersenyum memandang persoalan yang menanti.
Hidup tidaklah seperti hamparan permadani
Kadang tenang, kadang bergemuruh, seperti aliran sungai yg meliuk menuju muara kasih IBU PERTIWI

Dan muara kita adalah akhir kadang tanpa tanda.
Menualah kita menanti sang mentari setiap pagi
atau esok tak terlihat lagi sama sekali senyum dari penghuni negeri.

Dari ranting yang patah menitip salam buat rembulanku katanya
yang menebar senyum indah melampaui masa.

Sang ranting tetap menunggu
Menuliskan harapannya yang rapuh, luluh dan binasa.
Tetaplah kukenang sang rembulan REVOLUSI.

Menunduk sang ranting patah, berurai air mata.
Diam merasakan.
Riuh denguh tiupan angin rindu. Yang menusuk dingin hingga tulang pengharapan menggigil dalam memori ANAK BANGSA

Adakah…?
Sang harap dibelai rasa yang sama
Bergelora, dimainkan sang bayu terbang ke angkasa hingga ke jagat rindu berpeluh.

Dalam diam
Kupeluk mesra keinginan
dan gelora membelai hingga mata terpejam dibuai mimpi kembali pada masa Ir.Soekarno.
Mimpiku
Ketika kau datang dan menari dalam lelapku
tak terkata betapa indahnya kegelapan malam.

Ketika kurindu
Kucumbu waktu dengan debar penuh penantian
menggapai gelora yang membuai tidurku.
Dimana engkau, wahai sang mimpi, janganlah pergi. Ketiadaanmu membuat hatiku sunyi.

Diamlah wahai sang malam, resapi sepi mu.
Nyanyian semesta mengiringi harapmu pada keindahan
Dengarkan suara dawai yang dipetik sang angin
Mencoba menghibur kegelisahan jiwa yang terabaikan.

Buka sedikit sudut kelopak matamu yang indah
getarkan semesta dengan senyuman tegarmu menanti sang cahaya.
Jangan bersuara, biarkan langit bicara
Dan kau luluh lantak menikmati rasa kecewa

Lalu ikuti pergantian waktu
Putaran rodanya kan menggilas setiap sepi, tiap jengkal kecewa
Lalu purnama silih berganti bersama sang bintang
Kan menemanimu.

Tunggulah itu dalam diammu wahai sang malam….!!!

Penulis : KILIMAN ARIANSYAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...