Minggu, 16 Desember 2018
BAJUKU DICULIK DAN DIPERKOSA OLEH MONCONG SENJATA
Dalam arus yang sangat deras ku ukir lamunan bersama pena
Dalam merdunya nyanyian darah juang, ku persembahkan sajak bersama bunga-bunga revolusi.
Katakan bahwa aku bukan pejuang agar diriku tersindir dan mau menjadi pejuang
Air mata menetes dalam lautan manusia yang melihat tindakkan sang penguat raga
Dia sangat berani menjadi pembaharuan masa depan
Disa.at lantang suara menyampaikan kebenaran, disa.at itu pula moncong-moncong predator dihadirkan.
Disa.at gembiranya raga bergoyang bersama perubahan, disa.at itu pula mereka hadirkan malaikat-malaikat kematian.
Kau bagai pahlawan pembasmi peradaban
Kau hadirkan ribuan manusia tak punya malu didepan para generasi tunas bangsa yang sedang asik melantunkan seruan perjuangan.
Dengarkan ku yang sedang memanggil jiwamu dalam angin malam
Dengarkan ku yang mencium indah kebenaran bersama rembulan
Dan dengarkan ku yang sedang berjuang demi masa depan anak cucu adam
Aku bukan pengembala kuda yang setiap sa.at kau bisa perintah
Aku juga bukan pemain domino yang setiap sa.at bisa kau kocok diatas rupiah yang sedang kau bagikan
Aku adalah Aji-ajian yang selalu gerah melihatmu menjadi hantu-hantu peradaban
Moncong-moncong yang kau hadirkan takan membuat diri ini gentar dan mundur dalam garis perjuangan
Ancaman dan kengkangan senjata saya anggap itu adalah centilan dan rayuan wanita-wanita cantik yang menggoda dan merongrong hati sang pejuang sejati
Kau tak layak dipanggil manusia sebab kau serupa dengan kangguru diluar sana
Kaupun tak layak dipanggil penguasa sebab kau serupa dengan mahluk buas diluar sana
Hhhhmmmm..
Kurasa kau sedang tidak waras pak tua.!!
Kau tau banyak arti tentang moncong senjata
Tunjukkan klau moncong-moncong untuk membela bukan membelah
Keringat yang menetes dibumi pertiwi menjadi catata dalam meraih keharuman untuk generasi
Mendali-mendali hanya labang yang kau gantung dalam pundak
Kau sebenarnya tak layak menggantung mendali itu sebab kau tidak mencerminkan keadilan dalam penegakkan sepurmasi mendali yang kau kenakkan dipundak terhormat dan berpangkat itu bapak dungu
Hahahha.. ingin coba menguji atau merasa takut untuk diuji.?
ayolah jujur saja?
Aku takan memarahimu karna aku sadar kau buaya buntu yang sedang mencari nafkah untuk keluarga dirumah.
Hukum tak lagi mencerminkan keadilan dan kesejahteraan pada warga negara
Benar syair yang dilantunkan musisi MARZINAL mengatakan bahwa "Hukum adalah lembah hitam dan maling-maling kecil dihakimi maling-maling besar dilindungi".
Maling telur dipenjarakan, koruptor dibebaskan.
Ini penegak hukum yang sinting atau peguasa yang kelewatan kurang warasnya.?
Jadi bingung!!
Ahh..itu pertanyaan konyol bagi pecinta jalanan.
Semakin kau hadirkan moncong senjata semakin itu pula semangat terpatri dalam jiwa sang pejuang harapan bangsa
Jangan kau anggap kami pembuat resah karna berteriak lantang dijalan raya
Kami adalah generasi perubah yang cinta akan aparatur negara.
Kami rindu sengatan senjata masa itu dan kami rindu pukulan tongkat masa kini
Tembak dan pukulan yang coba diperangi tak sedikitpun membuat kami bersedih karna kami sadar perjuangan membutuhkan pengorbanan
Nyawa menjadi hembusan angin tak bermakna jika tak dihembuskan didalam alunan syair darah juang
Jika mati sebuah kewajiban.!
Haram hukumnya mati sebagai pecundang.
Yang sadar akan kemerdekaan pasti mengerti alur pena yang dituangkan diatas
sebab jiwa juang yang ditanamkan tak boleh mati lantara kertas setan yang menjadi acuan
Generasi muda harapan bangsa harus lahir dan membumi dalam lautan amarah revolusi bukan evolusi.
KILIMAN ARIANSYAH
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar