Selasa, 11 Desember 2018

AKULAH API DAN KAULAH ANGIN



Bukankah telah kutulis sajak di sana, dalam lembar nasibmu?
Dan para malaikat menjaganya dari angin dan cuaca
Dari api dan segenap mata

Bukankah rahasia itu yang kubisikkan ke dalam kalbu
Saat kau sendiri dalam goa itu?
Tidak Musa tidak Ibrahim tidak Isa
Tidak juga kau mampu menampungnya,

Melalui Jibril kutitipkan rahasia
Ia dekap kalbumu erat
Hingga kau paham
Firmanku adalah sajak
Penuntun bagi setiap langkah

Yang berjalan menuju cinta
Sebagai teka-teki bagi setiap hati
Yang terbakar dan hangus
Sebelum berlabuhnya rindu
Dan sajak-sajak yang mereka cipta

Akan berlutut di hadapan jiwamu
Yang telah kembali dari warna-warni dunia
Dari inti sajak-sajakku paling rahasia

Aku ingi menjadi air agar dirimu bisa berlabu bersama cintamu diatasnya
Di bawah hujan dan petir
Tak kutahu kau nabi atau tuhan
Tak kudengar sabda atau firman
Barangkali mataku tertipu
Kau bukan siapa-siapa bagi jiwaku

Kau yang berjalan di atas air
Di bawah hujan dan petir
Merentang sepasang tangan
Seperti menanti kakiku melangkah pelan

Kepadamu, ke dalam inti kasih
Namun tuan, jiwaku tak lagi putih
Aku hanya nelayan yang menjala ikan
Bukan jiwa yang menjala iman

Segala yang Kau Lihat Adalah Bayang
Di malam seperti ini
Di bawah redup lampu,
Di gelap yang mengepung mata kita,
Ingin kuakhiri percakapan sia-sia ini

Kaki-kaki batin kita, asing dan saling menjauh
Kau yang mengenalku
Sesungguhnya tak benar-benar mengenalku
Segala yang kau lihat adalah bayang,

Adalah dinding kabut yang menghapus jalan setapak
Menuju bukit sukmaku
Meski kau tutup matamu
Dan mengintaiku dengan jiwamu

Saat itu aku telah menjelma angin
Dan jika kau lari memburuku
Saat itu pula aku menjelma sunyi

Dan jika kau samadi demi merasakanku
Detik itu juga aku menjelma kata-kata
Dan jika kau berupaya mengeja huruf demi huruf

Kalimat kesedihanku
Segera aku menjelma cuaca
Dan jika kau perhatikan awan dan pergerakan angin

Detik itu aku telah menjelma jejak-jejak
Yang kau tinggalkan di atas pasir
Yang disapu buih lautan

Ke Mana Angin Membawa disitu ada kesejukan yang ku semaikan
Di tanah ini orang-orang tunduk pada titah penguasa
Telah kutunggangi nasib di Batavia

Kucari jejakmu,
Kutapaki jalan yang menampung kisahmu,
Daun-daun berbisik, jalan mengantarku
Ke dermaga
Kuseberangi lautan,
Kumasuki waktu-waktu yang rawan

Kupanggul jiwa yang remuk
Di pundak kesabaran
Kuseret seluruh ingatan
Yang merangkum sejarah keruntuhan dan kebangkitan
Ke mana angin membawamu?

Ke mana perginya bibir yang meneteskan kata-kata semanis madu,
Yang memindahkan musim
Ke pangkuanku?
Sahabat kecilku, jiwa yang jadi jiwaku,

Apa artinya keadilan
Jika orang-orang
Mencambuk suara diri yang menjerit di ubun-ubun malam,

Adinda,
Ke mana angin membawa kata-kata
Dari sangkar jiwa kita?
Kaulah api yang dingin itu
Bakar aku dengan baramu,
biar kurasakan basahmu, teduhmu.

Perjalananku kadang terseok, masuk cekung gelap.
Namun kaulah api yang dingin itu,
selalu meleburkan karat hilapku, lupaku.

Mendekatimu adalah menjelma kayu bakar
Peleburan tiap rupa kesangsian dan ratapan.
Perayaan kepasrahan.

Kaulah panas yang basah itu. Hangatkan aku
Dengan cipratan kunmu,
hidupkanku dengan yakinmu.
Kaulah panas itu, yang teguh kutempuh
kau tetap jauh.

Penulis : KILIMAN ARIANSYAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...