Aku terperangkap dalam indahnya untaian sajak yang di kumandankan oleh penguasa
Aku terpojok dalam lautan syair melodi yang dimainkan birokrasi
Aku terlelap dalam nyanyian rindu anak negeri yang merindukan pahlawan proklamasi
Adakah sepercik harapan yang akan diraih dalam zona nyaman ini.?
Aku rasa tidak.!
Dibalik cinta ada luka
Dibalik bahagia ada kesedihan
Dibalik persahabatan ada kemunafikan yang terbangun didalamnya.
Perdamaian yang kita impikan, pemberontakan yang kita dapat.
Negara yang merdeka adalah negara yang tidak mampu digenggam oleh apapun.
Generasimu bagaikan senar gitar yang kau mainkan dengan jari jemarimu
Generasimu kau anggap sampah peradaban layaknya hewan buruan dihutan rimba
Tidakkah kau berpikir mereka punya hak yang harus dilindungi dan diperjuangkan layaknya rembulan yang menjemput senja.
Bapak bisa duduk manis sembaring menitip petuah itu berkat generasimu
Bapak bisa tertawa terbahak-bahak itu berkat generasimu
Banyak yang lupa diri sehingga tak tau diri
Ketika kegentingan terjadi kau lari layaknya tikus yang takut dimangsa kucing tanpa memikirkan nasib generasimu yang sedang bergulat dengan singa yang buas dan lapar diluar sana.
Setelah generasimu diterkam bahkan ditelan singa buas, kau enak duduk manis sembaring bersulang teh manis buatan ibu manis dipersimpang jalan menuju paris dengan tokoh komunis si ibu berkumis tipis.
Tidakkah dirimu takut pada gunting yang menanti diujung dermaga demi menepis satu harapan yang hampir pupus dan sirna oleh perbuatanmu.
Disa.at ribuan suara kaum tertindas dilontarkan kau anggap itu hanya celoteh belakang dan kau hadir moncong-moncong berkelas predator memburu dan membasmi layaknya hama
Ketika ibu kumis tipis satu kali bersuara kau anggap itu ancam dan pukulan maut buat dirimu sehingga kau tak berani berkutip dan duduk diam layaknya domba gembalaan.
Kau takan menyadari kalau kami sedang berdiskusi
Kau takan pernah tau apa isi diskusi ini
Tunggu kami. Kami akan hadir dan menjelmah bagaikan malaikat pencabut nyawa untuk dirimu yang lebih menyiksa dirimu dibanding berkataan si ibu berkumis tipis.
KILIMAN ARIANSYAH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar