Selasa, 25 Desember 2018
DIMANAKAH POSISI HmI?
Keresahan mengisi ruang pemikiran kader umat dan kader bangsa.
Ketika masyarakat terjarah, mereka yang ada diatas tahta malah tertawa.
Mereka memang bukan orang bodoh dan gagal paham tentang sejarah, tetapi mereka adalah orang yang berdalih untuk mengukir sejarah.
sejarah harum dimasa silam kini mereka ganti dengan kisah kelam dipenghujung malam.
Memperkuat egosentris dengan mengakukan diri sebagai aset dari bangsa, tapi realitas selalu dipandang sebelah mata.
Dengan sombong dan lantang berbicara keadilan, tapi hanya berakhir sebagai wacana.
Para pendekar jalanan yang dulu lantang berteriak melawan penindasan, kini terperangkap dalam politik pencintraan.
Omong kosong bicara kedaulatan, sedangkan ribuan potensi bangsa diterlantarkan.
Aku meragukan indenpendensi organisatoris dan etis dari mereka para politisi.
Kala itu pernah berjaya dan bergandengan tangan dengan masyumi yang lahir dari negara matahari terbit.
Setelah hilang dengan lantang sang tokoh menyatakan partai islam no dan islam yes.
Padahal darinyalah negeri menderita virus sekularisme.
Mungkin wahib berkata benar dengan segala kerisauannya tentang kader yang larut dalam romantisme sejarah.
Sehingga kini wadah perjuangan tidak lagi memiliki taring dalam menyelesaikan masalah.
Ketika politik praktis dan hubungan pribadi masuk dalam wadah, maka darah juang seakan halal diperjual belikan.
Sementara rakyat menjerit kesakitan dijalanan dan kolong jembatan.
Retorika mantap dan nyaring terdengar dengan panduan tangan lincah, membuat rakyat dan organisasi menjadi tumbal dalam ambisi perpolitikan.
Bukti berbicara dengan ribuan tragedi yang diciptakan.
Ketika generasi yang sadar akan esensi perjuangan malah dibungkam dengan dalih kekuasaan.
Ketika potensi yang terbina sebagai lima insan cita dibiarkan menunggu ditengah panasnya pelita.
Tragedi kian parah dan masuk lebih dalam.
Organisasi diperkosa dan dilegitimasi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
Mencuci otak setiap generasi baru dengan pahaman liar, bahwa setip yang berbeda adalah lawan.
Omong kosong dengan wacana berteman lebih dari saudara ketika perdebatan berakhir dengan pertikaian pribadi dan saling dendam.
Meminjam kata dinamika agar terlihat lincah, terlihat menggelikan ketika mengoceh tanpa tau arah kiblat NDP dan AD/ART.
Peringatan dimasa milaneal ketika teknologi dan kecanggihan menjadi alat saling melengserkan.
Jangankan menjawab tantangan zaman, bersatu saja belum mampu diadakan.
Terlalu jauh ketika berbicara tentang keadilan sedangkan setiap keadilan terpenjara dalam egosentrisme.
Aku rindu dengan lingkaran diatas tanah rata yang merubah pandangan apatis.
Bukan kumpulan elit politisi yang menjual jubah organisasi.
Aku menunggu untuk sebuah jawaban yang tak pasti.
Jawaban yang mungkin pernah ada tapi tersapu oleh besarnya ambisi.
Dimanakah Posisi HMI?
penulis : MUH NUR ISLAMIA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar