Sabtu, 15 Desember 2018
PEJUANG TANPA NILAI ILMIAH " PE-TA-NI"
Puji syukur atas segala karunia sang penguasa alam, ditengah gegap gempita cahaya lampu diwaktu malam.
Dimalam yang begitu liar dimana sampah dan budak nafsu bergerilia dalam nestapa dunia.
Saat bersamaan terlihat mereka yang pulang dari ladang diwaktu petang demi membesarkan sebagian sampah.
Mereka yang tertimbun oleh kebiadaban penguasa yang memilki sifat bagaikan sampah.
Mungkinkah penyebnya pidato sang singa podium yang hanya meminta sepuluh pemuda dan perempuan tua untuk mengguncangkan dunia?
Sehingga mereka sekarang disiksa oleh kebijakan sang penguasa?
Atau mungkin ada kata yang dipenjara oleh lidah?
Jika memang demikian adanya, maka biarkan mereka dan keturunannya bebas untuk bersuara.
"Berikan Aku Sepuluh Petani Tua, Maka Akan Aku Nafkahi Seluruh Dunia".
Kata yang diinginkan oleh puluhan juta pemikul cangkul ditengah ladang.
Sejarah memang tak menorehkan namanya, sebab terlalu banyak nama dan jasa yang tak akan pernah muat dalam memori kepala.
Meskipun dari keringatnya terlahir sebagian besar penguasa, tapi namanya hanya sampai dipenghujung senja.
Aku melihatnya terluka dengan deraian airmata darah.
Menangis dipojok malam dengan nilai tukar anak alam yang tiada artinya.
Terdengar lirih tangisan yang memecah keheningan malam sebagai pengantar tidur dimasa kelam.
Dia bercerita tentang penguasa yang budiman.
Yang menerima segala keluh kesah dari jutaan kepala.
Penguasa yang menawarkan senyuman saat bersalaman.
Tapi sayang itu semua hanya sebuah tipuan.
Nasib bergelantungan diatas janji-janji penguasa.
Harga obat dan pupuk demikian melambung keangkasa.
Keparat bagi mereka yang memperkosa hak rakyat.
Suara tangisan mengiringi langakah sang anak dijalanan.
Bergemuruh riuh hasil perjuangan mereka yang bermandikan keringat.
Mengakat senjata dengan suara lantang " sejahterakan petani atau malapetaka akan terjadi?".
Kita dibesarkan dari tanah yang berlumpur.
Kita berkeliaran diantara padi yang menguning.
Kita diterpa oleh hujan,badai dan sengatan mentari.
Jadi jangan pernah menganggap ini semua adalah nisbi.
Mari bangkit dan melawan.
Mari bergandengan untuk kesejahteraan.
Mari kita suarakan lebih nyaring agar telinga sang penguasa peka.
Kita lawan dengan tekat dan bukti bawha kita bangga menjadi anak petani.
Sebab kita makan dari hasil keringat petani tua yang memikul cangkul membelah ladang.
Penulis : MUH NUR ISLAMIA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar