Kamis, 13 Desember 2018

MERAIH MASA DEPAN MAHASISWA



memupuk generasi yang mau berprose sabar dan ikhlas
Bergerak untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkikis oleh perubahan zaman.
Hari sakral golongan pemuda yang merindukan kata merdeka.
Memang semuanya bukanlah perkara mudah.

Meneguhkan hati dalam iman dan cinta.
Semoga apa yang menjadi harapan dan tujuan mulia ini mendapat kemudahan dari sang khalik.
Lelah dan letih sudah pasti menjadi konsekuensi perjuangan demi merubah dan meraih masa depan mahasiswa.

Jika sejatinya hubungan adalah kebahagiaan yang kita cari tak kunjung jua hadir mengahampiri, lalu untuk apa bergelut dalam kebimbangan yang tak bertepi.
Aku iri pada balita yang tertawa lepas tanpa beban pikiran.
Mencintai dalam diam merajut rindu ditengah kesunyian.

Melepas segala tragedi gelap dimasa kelam, dengan mengingat tanpa mengenang.
Menghayati setiap cinta yang datang dengan hujatan keras nan tajam bagai sebilah pedang yang tajam.

Saya mengerti dengan segala macam bentuk dinamika yang kini sedang terjadi.
Saling melempar singgungan dan mengubur tujuan yang dicitakan.
Apakah itu tujuan yang diharapkan demi terwujudnya masyarakat madani?
Atau mungkin ini strategi pembasmian agar generasi pada bungkam?

Pihak ketiga akan menang jika demikian.
Apakah perjuangan berlandaskan pada egosentris untuk saling eksis?
Kenapa tidak bergandengan tangan menapaki tujuan yang sama?
Pahaman kemahasiswaan tidak memerlukan ego dan tida memerlukan solidaritas materi.
Sekarang sudah saatnya kita bersatu dalam tujuan yang sama.

Kami disini menyambut setiap yang datang dengan senyuman.
Mencairkan suasana yang dulu pernah kaku hanya karena alasan dinamika.
Berteman lebih dari saudara membuat setiap moment terasa tidak perlu diabadikan lewat foto, tetapi dirasakan dan diabadikan dalam sanubari.

Jika sepasang kekasih saling mengikat hati dalam janji setia, maka persahabatan mahasiswa harus menyatukan segalanya demi tejad dan harapan.
Romansa romantis dan persahabatan mahasiswa tersaji dalam bingkai kesederhanaan yang mengajarkan kita akan makna bahagia yang sesungguhnya.

Dirimu tidak diajarkan untuk menjadi pecundang dalam setiap problema.
Dirimu dilahirkan dengan tekad dan harapan yang kuat.
Kenapa engkau sungkan untuk berbuat kebajikan dalam mengakan kebajikan?
Mengapa kau terlalu lena dengan buaian dan pujian?
Mengapa kau harus diam tanpa kata saat problema menantang keras realita?
Apa kau sudah keluar dari rel dan jalurmu?
Kau bukan kereta tua dengan mesin butut, tapi kau adalah sinar dalam gelap gulita.

Sudah saatnya bangkit dan melawan.
Meruntuhkan tembok derita yang tercipta oleh penguasa yang gila harta.
Keadilan seakan hanya berlaku sebelah mata.
Penindasan,pembodohan dan pemerkosaan terhadap sistim kian merajalela dalam bingkai satu warna.

Penulis : MUH NUR ISLAMIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...