Senin, 16 Maret 2020

Demokrasi Sumber Geopolitik



penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi.
Pemisahan wewenang, check and balancing, supremasi hukum, dan kesetaraan keadilan bagi semua orang, mesti dijunjung tinggi oleh para pemangku tahta.!
Betapa berbahayanya jika hal tersebut diabaikan. Kekuasaan tidak menjamin keamanan disegala penjuru jika demokrasi masih dijadikan sebagai alat rumusan kejahatan yang struktural.

Keadaan darurat yang diterapkan secara serampangan oleh sistem kekuasaan hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Jika negara begitu gampang menangguhkan konstitusi dan prosedur-prosedur demokrasi pengambilan keputusan dengan alasan kedaruratan, hal itu bisa menjadi bahan bakar bagi masyarakat untuk menangguhkan ketaatan terhadap negara.
Telaah Kritis hasil pemikiran Demokrasi Dinasti menjadi alasan masyarakat untuk bertindak diluar dari akal sehat.

Penerapan keadaan darurat oleh rezim demokrasi di belahan dunia mana pun memang harus benar-benar diwaspadai. Sebut saja darurat terorisme, darurat radikalisme, atau darurat narkoba.
Jangan-jangan kedaruratan ialah kedok dari ketidak mampuan negara untuk menyelenggarakan kekuasaan secara demokratis.
Bolehkah suatu rezim demokrasi menerapkan keadaan darurat atau status darurat?
Jawabannya, tentu saja boleh. Asal ada mahar dan salam dua periode.
Bima sedang berduka dalam alur demokrasi.
"Dari Rakyat"
"Oleh Rakyat"
"Untuk Menipu Rakyat".

Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi Juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pilkada di depan mata. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan. Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.

Jika sudah pernah duduk di legislatif, eksekutif, dan yudikatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/wakil gubernur atau walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.

Demokrasi menjadi kian tidak jelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis politik dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula calon dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar. Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan. Politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.
Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri dan menipu rakyat.

Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.
Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan tidak manusiawi untuk duduk di kursi kepemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa.
Selamtkan rakyat dari genggaman demokrasi darurat.!
Rakyat butuh kedaulatan.!
Majukan Bima untuk keturunan kelak.

Penulis : Kiliman Ariyansyah

Senin, 06 Januari 2020

Mimpi Perkosalah Rasa



Ku rangkai kata dalam sebuah puisi lara, Ku kemas duka dalam bejana siksa, ku jadikan sketsa hayalan untuk menikmati saat kelam menghampiri jiwa.
torehan luka demi luka silih berganti merongrong raga. Ingin rasa menjerit membelah langit, namun apa daya berbisik pun aku tak bergemit.
Kini, aku termenung melukis cerita dalam renungan panjang.
Aku hanya sekeping rasa yang menjelma menjadi sebuah asa.
Asa yg dulu pernah di bangun bersama sebelum Akhir nya dia pergi meninggalkan jejak yang ku sebut itu luka.

Bisakan aku bertahan dan memecahkan keheningan malam? Mungkin!
ketika hati berteriak karna segundang rasa, seketika itupun masa berlalu dan sirnah serupa bayangan asmara.
Ketika jiwa meraung karna seribu luka, seketika itupula kau jajal dan poles dengan buaian rasa.
Bingung, entah cerita mana yang mesti kuselesaikan agar tak ada gundah dalam raga.
Tubuh terpaku diam tak berdaya
terpuruk karna dunia yang kejam
menyiksa dengan seribu kesedihan.
oh… dunia dimanakah kebahagian itu?
Dimanakah kau menyembunyikannya?

Magrib itu kau cumbu diriku dengan desir rindu.
Gemerisik kota menghancurkan nyenyat yang kucipta diam-diam.
Kulantunkan ayat-ayat renjana pada bibir-bibir kubah yang menggema pada dinding-dinding musholah.
Sebagian diriku risak, ada desir yang mengguncang hebat, lagi-lagi aku tercekat pada adzan yang merdu di sudut-sudut kota.
Sejujurnya, ingin kututup semua kisah agar tak lagi ada asa yang tersisa untuknya.

Ketika sang angin membisiksan tentang itu, aku hanya dapat tersenyum menyembunyikan lara.
Aku tidak pernah mengerti apa yang dimaksud, tapi kurasakan adanya dan seakan menyentuh hingga menusuk kalbu dan membuat hati menjadi bisu.
Entah apa yang sang angin ingin sampaikan.!
Harapan hanya berita kesenangan tanpa ada kedukaan dalam hati.
Tapi nyatanya sang angin bermaksud lain, rasa gelisah tertanam dihati seketika.
Kumohon, jangan lagi menyiksa raga karna ku sudah sanggup menghiasi bibir dengan senyuman palsu.

Kamu bagaikan bunga tidur disepanjang hari yang slalu menutupi mata untuk diri yang sedang menderita.
Aku telah terlaalu jauh berharap kisah indah dalam hidup, sehingga panoraman hidup memberika kesejukkan yang sempurna.
Hingga saatku tersadar itu hanya mimpi penenang tidur panjang.
Aku tidak pernah tau apa isi hatimu.
Karna hatimu yang slalu membeku
Kepada aku yang slalu menunggu.
Sampai kapan aku harus menunggu?
Menunggu hadirmu disini, di hatiku,
Tempat yang slalu menyebut namamu disetiap waktu.
Mungkin aku harus sadar kalau aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Akupun bukan orang yang dapat dibanggakan dan bukan pula yang dapat membanggakan.

Aku rela…
Jika harus memandangimu walau tak sedikitpun tersudut senyum di bibirmu.
Aku sanggup.
Jika harus berkali-kali di tampar oleh kata-kata mu yang tak pernah mau menerimaku.
Aku terima...
Jika kau terus-menerus menyuruh ku untuk pergi tinggalkan mu dan jangan pernah kembali.. katamu!
Andai kabar besar itu datang tanpa diundang, asaku tetap luluh lantak menyambut hari bahagiamu.
Saat kulihat bidadariku marah, pondasi cintaku pun runtuh dalam sekejap dan Menyisakan puing penyesalan yang mendalam.
Wahai bidadariku.
Dengarlah harapan dari sisa keyakinanku.
Ku ingin cinta kita sekuat karang.
Jangan biarkan rindu terkikis.
Jangan biarkan harapan kita menipis.

Dewasa adalah tujuan utama mencari jiwa agar mudah diberi nama.
Terkadang maknanya sedikit salah, melampaui kisah sedikit resah.
kini aku sudah tak biasa, kini aku sudah tak merasa bersama mereka disela lara.
hidup di pinggir kota berbagi cerita bersama di teman lama.
kini aku berkaca, bukan saatnya aku bercanda.
Tersentak, terbangunku dari lelapnya tidurku.
Peluh banjiri tubuh lelah ini, fikiran berkecamuk, desak ingatan akan mimpiku barusan.
Air mata pun tak dapat kubendung hati bagai tercabik cabik, luka begitu dalam yang sedang kualami terbawa mimpi.

Ku ingin beristirahat
Karna tubuh ku sudah terlalu penat, mataku pun sudah terlalu berat dan tak sanggup lagi untuk menatap.
Biarkanlah aku tertidur.!
Biarkanlah semua masalahku hancur dan jangan pernah bangunkan aku, disaat mimpi indah menemani tidurku dan disaat Mimpi indah mewarnai kehidupanku.
Tak perlu risau karna aku akan tetap hidup bersama rasa meski diperkosa oleh mimpi.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Selasa, 31 Desember 2019

Bunga Derita



Dalam kesendirian terlukis raut wajah penyesalan, aksara berhamburan, hati kian membisu dalam kehampa'an.
Terbius aku dalam sepi.
Menatap kelam tanpa arti.
Terhempas diriku saat berlari mengejar angan dan mimpi-mimpi.
Lupakanlah puisi indah yang telah tercipta, biarkanlah baitnya lenyap seiring masa.
Ma'afkan aku dengan segala ego yang ada, sehingga kini telah tercipta kisah yang sirna.
Kunikmati kesendirian diujung senja bersema semilir angin menyapa.

Hanya sekedar menikmati seutas senyum dari pudar imajinasiku.
Menghayalkanmu dalam dunia fantasiku, bersamu adalah waktu yang akan selalu ku kenang.
Tanpamu adalah fase terburuk dalam hidupku. Namun, aku bersyukur karna telah mengakhiri derita ini.
Kehilanganmu membuatku seakan berjalan dalam gelap. Namun, disaat itupun terang telah datang dengan cerita indah.
Ku maknai arti cinta dalam renungan, Cinta bagiku adalah ketulusan
Mengihlaskan saat cintanya bukan lagi milik kita Dan melepaskannya saat tak lagi bahagia bersama.

Barisan batang-batang ketegaran mulai rapuh. Menggilas tanaman pencegah erosi hati tertanam ratusan tahun yang lalu, merah menyala api angkara melunakkan angkuh yang ku pertahankan sekian lama.
Masih bisa ku hirup sedikit aroma tanjung di lengan yang kau genggam sebagai salam, Bau yang halus mengetuk pintu dengan licik.
Sedikit tanjung yang berpadu dengan tubuhmu menjadi panah dengan racun yang mematikan menancap.

Aku bermusuhan dengan hari ini  selamanya, Ketika kerajaanmu mulai mendeklarasikan kemerdekaan tanpa aku sebagai rajanya.
Seolah penghianatan yang menjadikan aku buronan sehingga menang seketika, Aku membangun istana itu dan kau bertahta tanpa aku disana.
Rajutan memori kiaskan kebodohan yang tidak pernah suram, Kita selamanya adalah katamu untuk menusukku mati. Lincah tak berjejak, Mencekik tanpa tenaga, Melukai tanpa terkena darah.

Dingin kabut masih menyelimuti undukan bumi tertinggi, ditempat itu sepenuhnya aku membenamkan diri.
Langit yang tadinya cerah seolah ikut mengerti kalut dalam hatiku
Perlahan ia ikut murung dan mengundang awan gelap untuk ikut berpesta pora. Sebentar lagi akan ku turunkan badai bisiknya.
Seperti roket kau melesat hilang
Dengan satu kali sentuh menembus awan bergumpal, Sebelum hirupan nafas ku keluarkan kembali secepat itu kau berpamitan pergi.

Aku ingin coba sekali lagi, bisikku
Tanpa menoleh kau sudah lagi tak bisa ku peluk dalam pandangan.
Kapan air mata akan mengering?
Aku tak tau, mungkin esok atau tidak sama sekali.
Aku tidak mau tumbuh besar dengan derita, aku hanya ingin bahagia seperti mereka. Lirih memohon kepada langit, aku berharap selamanya tak pernah bertambah usia agar derita usai.
Tanpa balasan aku hanya menganggap nikmat adalah sebuah hak, seperti keharusan bahagia harus aku terima.
Hidupku tidak hanya diperuntukkan untuk isi cerita hanya mengenai aku dan air mata yang berhasil ku usap kering.

Mengenai senyum masam yang ku jadikan semanis sakarin, harusnya ku torehkan senyum mereka yang aku lihat
Nafas tanpa ari mencekik membuat aku mati. Dulu kami selamanya bersama
Menjalani hari-hari dengan penuh warna, bersenda gurau di bawah cerahnya rembulan.
Semua tentangmu, sudah saya ketahui dan tak tersedia rahasia yang kusembunyikan lagi darimu
Karena saya begitu yakin denganmu.
Namun..
Kini semuanya cuman bayangan semu, bayangan yang membawa bencana dalam cerita dan kini Semuanya cuman kenangan, kenangan yang terkubur dengan derita bersama kehilangan.

Biarlah semuanya terjadi
Karena barang kali ini adalah yang terbaik. Semoga kau mendapat daerah yang indah, bahkan lebih indah dari seluruh kenangan kita.
Penerangan, Apa kau sedang mengejekku.?
Kuharap tidak, sebab semuanya telah usai dan menjadi harapan lalu.
Dunia hanya panggung sandiwara, siapa yang pandai bersandiwara dia yang memenangkan dinamika.
Biar waktu yang akan menjawab cerita. Untuk saat ini biarkan derita yang mengiasai jiwa.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Minggu, 03 November 2019

Mahasiswa Adalah Aset Tuhan



Kami bukan tak suka kekuasaan, apalagi anti kekuasaan.
Kami hanya ingin kekuasaan yang benar-benar bicara tentang kepentingan rakyat.
Yang merasakan keluh kesan rakyatnya, yang merasakan jerit tangis rakyatnya, dan berjuang mensejahterakan rakyatnya.
Banyak hal yang mesti ditata sebagai rujukan utama dalam berbangsa dan bernegara. Mulai dari prilaku pemimpin, manfaat pemimpin, akidah pemimpin, dan konstitusi kepemimpinan.
Kekuasaan bukan alat pemuas nafsu dunia, apalagi pembangkit gairah asmara. Kekuasaan merupakan alat penyatu dan pembangun hubungan berbangsa dan bernegara, lebih-lebih mensejahterakan rakyat penghuni wilayah.

Pemimpin kami anggap sebagai pemantik publik, dan sebagai bapak/ibu sosial. Yang menjadi panutan pahaman dan sikap yang bisa dimengerti oleh akal sehat.
Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka jangan salahkan kami kalau ada hal-hal diluar dari akal sehat kami tunjukan. sebab, kau yang telah mengajarkan kami untuk bersikap demikian.
Jangan pernah menjajal sistem dengan sikap arogansi materialis. Tapi jajal lah sistem dengan relasi intelektual dan relasi nurani kemanusiaan. !
Agar kau tak menganggap bahwa tindakkanmu lah yang paling benar.
Terkungkung jiwa, terdiam rasa. Hanya bisa berharap adanya gemerlap dihari esok.

Telah banyak cabang antropologi yang kami pelajari, tak hendak membuat kami bijak dalam memahami dan mengerti satu dengan yang lainnya.
Kata per kata telah terlantun tapi tak satupun diterima dan didengar. Kami sadar bahwa anarkis tak etis dilakukan oleh para aktor pembangun bangsa.
Tapi oleh keadaan, dipaksa untuk bertindak tak wajar.
Dalam pahaman kami, untuk menciptakan restorasi perlu kegaduhan.
Jika niat baik tak lagi dihargai, maka anarkis menjadi alternatif dalam mewujudkan nilai humaniora dan menciptakan masyarakat madani.

Tak ada lagi kata yang bisa menjadi senjata andalan sebagai cerminan kaum intelektual.
Sebab, suara kini telah dibungkam, langkah telah dipangkas. Dalam pahaman mereka, akademisi hanya bingkai tak bermakna dan Intelektual hanya pembodohan akal yang tak berorentasi jabatan.
Sehingga tak sampai niatnya untuk membangun bangsa dan negara yang adil dan makmur.
Langkah pun kian tertatih menyisiri pinggiran jalan demi mengais secuil keadilan.
Hanya harapan yang menjadi semangat dalam perjalanan nanar pembuangan diri dari kemunafikan kekuasaan.

Berbagai polemik terjadi dan berlalu, tak membuatnya ibah untuk mencegah.
Mahasiswa bukan pelampiasan senjata.
Mahasiswa bukan pelampiasan politik.
Dan mahasiswa bukan pembuat onar.
Tapi, mahasiswa adalah aset negera yang mesti dijaga dan dihargai adanya.
Banyak pemimpin yang melupakan sejarah. Melupakan jerih payah mahasiswa dalam memerdekakan indonesia. Menganggap mahasiswa hanya sebagai sampah penghuni simpang jalanan.
Saya akui rekonstruksi berpikir penguasa hari ini fantastis. Saking fantastisnya, mereka membuat dirinya terlihat sangat bodoh dalam bertutur dan bertingkah. Sangat disayangkan jika hal itu dibiarkan berlarut-larut.

Ketika langkah perubahan diambil oleh para mahasiswa, seketika itupun terdengar suara;
Dar....Dir.....Dor.... Bunyi amukan senjata yang membabi buta. Memukul, Menendang, menembak itu keahliannya.
Hatipun bertanya. Apakah mereka pengayom, pelindung, pelayan masyarakat dan ataukah ia mereka adalah aset yang menjadi vampir pesuruhan penguasa.?
Entahlah..!!!
Mungkin mereka predator liar yang tak punya arah, kemudian membela siapa yang memasukkan selembar dalam kantongnya.

Perlu dipahami dan dimengerti oleh elit kekuasaan, bahwa mahasiswa bukan sekumpulan orang yang tak punya akidah dan nilai kemanusiaan.
Mahasiswa membuat kegaduhan karna ada alasan tertentu. Mereka risih melihat tindakan elit kekuasaan yang selalu memarjinalkan rakyat.
Mahasiswa tak butuh yang lebih. Yang mereka butuhkan hanya "kesejahteraan dan keadilan yang menyeluruh untuk rakyat penghuni negara".
Ingat bos...!!
Mahasiswa adalah aset tuhan yang menjadi penyatu disetiap perbedaan, dan menjadi pembangun disetiap kehancuran.
Mahasiswa adalah tuhan ke-dua dari tuhan-tuhan yang ada.!

Penulis :  KILIMAN ARIANSYAH

Senin, 28 Oktober 2019

Rindu Juga Butuh Istrahat



Pada tegukan kopi terakhirku, tercurah harap dan cita.
Moga sapa pertamamu, awal kisah kita.
Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?
Nyatanya, hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualangmu.
Nyatanya, cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu.
Lalu aku bisa apa?
Mengais belas kasihanmu yang kau cecer sepanjang jalan?
Bukan, itu bukan cinta Jika hanya membawa luka dan derita.

Aku sempat cemburu pada awan, yang sering kali kau pandang.
Selalu ada yang melintas di kepala, entah itu syairmu, atau wajahmu yang hanya bisa kureka.
Rindu selalu punya cara sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang.
Setiap orang memiliki batas kewarasannya masing-masing. Hanya saja, memilih bertahan, diam, atau melepaskan adalah kesepakatan hati dan akal. Pun kau yang sering pulang bertandang dan pergi menghilang.

Jika rindumu tak lagi jadi milikku. Lantas, apalagi alasanku kembali ke kota ini?
Ada jarak yang terbentang karena rindu. Ada cerita yang terbuat karena jarak.
Aku percaya, ceritamu dan ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu.
Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat.
Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam
jernihnya selalu menatapmu.
Selalu ada yang tak diceritakan,
langit kepada hujan.

Entah pagi bersambut kabut,
Atau mendung yang bikin murung.
Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing-masing.
Serupa gelombang lautan, rindu datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kau kejar.
Rindu bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Rindu juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga.

Ah, biarlah …
Rindu tak butuh kata-kata.
Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu.
Gemelisik daun kering menyadarkanku
bahwa semestamu bukanlah aku.
Kerontang daun terseret angin
melebur menjadi luka hatiku.
Aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan, dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan.

Tak semudah itu merangkai kata.
Jika pun sudah terangkai bibir tak semudah itu mengatakannya, dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan.
Rindu ibarat sajak yang terangkai indah, yang siap disajikan pada pembaca.
Selanjutnya tinggal pembaca yang menilai, apakah menyentuh atau tidak.
Rindu juga ibarat mengaji huruf tanpa aksara, ada tapi jarang yang bisa membaca. Mungkin Rindu adalah hantu, atau mungkin tuhan.?
Entahlah..!
Yang dapat mengerti rindu, dia yang tau tentang Merindu. Dan satu yang ku pelajari dalam merindu, yaitu rinduku adalah mencintaimu.!

Penulis :  KILIMAN ARIANSYAH

Sabtu, 26 Oktober 2019

Rindu Telah Mati


Tempo lalu, ketika langit menjadi saksi
dan kopi menjadi bukti kita duduk di ambang pintu, menikmati suguhan langit bersama sunset.
Terlalu kuno memang bagi para pengelana cinta, tapi kita selalu memiliki cara untuk bahagia.
Ibarat hujan, ketika ia datang menghampiri, Ia serupa sajak yang belum usai untuk dibaca esok hari.
Aku pernah mengagumi Fajar lebih dari segalanya. Tapi itu dulu, entah kenapa kagum itu pudar layaknya bulan tertutup kabut.

Dulu kau selalu menjadi alasanku untuk ‘pulang’.
Di kota yang membuatku mengenang segala kenangan yang kita lalui bersama, dulu. Namun kini, semuanya berubah pilu dan kau tak lagi menjadi alasan dari kepulanganku.
Tempo lalu aku sering kali terbuai penasaran, seperti apa rasanya menyimak rinduku di balik layar, sambil melihatmu asyik menyandarkan pipi di bahuku.
Sekarang penarasan itu tak lagi berarti. Sebab, bidadari tak bersayap telah menghias relung hati.

Banyak yang hilang dari kota ini. tapi satu yang tak pernah hilang, bahkan selalu menyala dalam memori, yaitu kenangan suram paska itu.
Kenangan yang membuatku terkucilkan, Kenangan yang membanting rasa, dan kenangan yang menyadarkanku bahwa status sosial kita beda.
Tetaplah jadi bintang bagi mereka, berikan kilau indahmu selalu untuk mereka.
Aku do'akan semoga kau dan mereka selalu dalam bahagia. Kuharap takkan ada lagi korban amukan rasa yang kecewa oleh tingkah mereka, karna dekat dengan bintangnya.

Di hilangmu kali ini tuan.
Kunikmati saja perih yang meraja
Mungkin engkau tak berkehendak menengok hatimu. Namun, kutahu istanamu tak lagi terasa sama
Sejak kau bawa serta hatiku pulang ke sana.
Dari kotamu sempat kutemukan tenang, dari dirimu sempat kutemukan nyaman. Kemudian engkau menghilang, tak kutemukan tenang di kota lain tuan.
Kupikir ini rindu, ternyata candu yang telah menjadi tabu.
Kupikir akan jadi romansa, ternyata hanya sebuah fatamorgana.

Di atas bangku taman itu dulu, daun-daun di musim gugur, debu-debu luruh, dan angin yang membisu, adalah saksi akan sebuah tunggu yang beribu.
Untukmu yang tak lagi kutunggu, tabahku bagai bangku taman usang, yang rela dihujani dedaun dimusim gugur. Aksara puisiku berserakan, berjatuhan serupa daun kering. Dengan piluh kupunguti satu persatu menjadi komposisi rindu yang berujung amarah.
Akupun ambil posisi dan milih pergi. Dalam hati ku berucap, "Semoga kau tak merasakan apa yang kurasa".
Eh ternyata, semesta mencatat semua yang kurasa pada hari itu.

Dan kini semesta sangat suka melihatmu kesakitan menahan rindu, sebab dalam kesakitan menahan rindu kau akan mengerti tentang rasa dan asaku dulu.
Kesakitanpun akan membuatmu memilih bertemu atau hanya terus merindu tuan.
Kuharap kau tak menyimpan dendam karna ku memilih pergi.
Kuingin kau tau bahwa aku bukan sicundang rasa seperti yang kau kenal dulu. Kini semua telah berubah.
Aku dan kau telah beda jalan dan status. Ijinkan ku hidup bahagia dengan pilihanku. Jangan lagi kau usik, hingga memicu aku dan dia bertengkar karna ulahmu.

Aku rasa kau mengerti makna dari sajak ini, karna kau bukan anak kecil yang mesti dijelaskan secara detail akan maknanya.

Penulis: KILIMAN ARIANSYAH.

Kamis, 24 Oktober 2019

Cinta Bukan Partai Pengemis Suara


Sebagai warna, kau ingin jadi apa?
Biru yang damaikah?
Atau merah yang bergairah?
Ayolah, Kita sedang membicarakan cinta, Bukan partai pengemis suara.
Kau bagian dari hidupku yang tak akan pernah memudarkan harapan dan tersimpan abadi dalam relung hati.
Yang ku takuti dari mawar adalah hilangnya wangi yang damai dan berubah menjadi duri yang menyakiti.
Jika mencintaimu adalah mata pelajaran, maka aku akan hadir dan duduk paling depan agar dapat kau kesungguhan cinta yang kumiliki.

Bagaimana mungkin kau kan percaya akan rindu ini. Bila kau menganggap itu semua sebagai suatu hal yang palsu nan tabu.
Bisa tidak kau pahami sedikit hatiku.? Aku bukan melebihkanmu tapi aku justru memperhatikanmu.!
Menyukai orang sedingin dirimu buat aku sadar, jika kau menaruh perhatian tidak pada sembarang orang.
Kelelahan akan selalu datang untuk orang-orang yang tak mengerti arah, tak tahu dengan tujuannya, dan selalu merasa tak punya capaian.

Begitupun dengan diriku yang kini tak mengerti arah mana yang sedang kuperjuangkan.
Aku tersesat dalam tujuan yang semestinya mudah kutempuh.
Tujuan itu mungkin tentangmu atau tidak sama sekali.
Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta. Sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala.
Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan, pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan.

Senyatanya sepi adalah aku, perempuan yang kerap ditinggalkan cinta dan rindu bersama bayang semu.
Kalau rindu itu peluru, engkau pasti penembak paling jitu.
meski rinduku tak kau balas, meski rasa sayangku tak pernah kau anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat. Hanya Tuhan yang mampu membuatmu dekat.
Hingga hujan redah, kita masih ragu siapa yang ingin memulai suara.
Jarum jam terus berputar semakin mendesak tapi kau dan aku masih gengsi untuk bersuara.

Hingga akhirnya rela menyiksa diri.
Malam semakin pekat dan kita tetap saling menunggu siapa yang memulai mengeluarkan suara “aku mencintaimu dan aku ingin berjumpa selayaknya dulu".
Mungkin di benakmu terselip sebuah rasa, tapi dalam pikirmu masih ada dendam yang membara.
Jangan pernah meninggalkan seseorang yang sungguh-sungguh mecintaimu demi orang lain yang membuatmu buta dalam mencinta.
Biarkan tuhan yang menentukan keadaan kau dan aku.
Yang pasti rasaku takkan bisa dipudarkan oleh apapun, meskipun itu amarah.

Penulis: Kiliman Ariansyah

Selasa, 22 Oktober 2019

JIWA DIPERKOSA RASA



Rintih hati bergejolak menyuarakan dersik langkah pagi ini, menahanku untuk tetap tinggal di dasar luka bersama pilu.
Langkahpun kian tertati menyisiri alunan amukan hati yang terus beraduh bersama lara, memaksa diri untuk tetap berada di sisi suram ini.
Kiniku terjebak dalam kebinggungan yang mendasar di ruang polemik jiwa dan rasa.
Ingin jiwa untuk mundur dan mencari wadah yang lain, tapi rasa tak mau renggang dengan seberkas sinar harapan itu.

Ingin sekali jiwa menyalakan tanda bahaya ketika gemuruh riuh problem menghampiri batin, tapi rasa tetap hadirkan berlian sewalaupun suar menggelegar menembus batas kesabaran diri.
Terkadang dunia terasa sempit dikala rasa menguasai jiwa, dan terkadang pula dunia seakan milik saya dikala jiwa menguasai rasa.
Bingung sih iya, tapi mau gimana lagi.
Rasa telah menjajahi jiwa hingga raga pun kian tersiksa.

Jauh sudah langkahku menyusuri hidupmu yang penuh tanda tanya.
Kadang hati bimbang menentukan sikapmu, tiada tempat mengaduh.
Hanya iman didadah yang membuatku mampu selalu tabah menjalani.
Malam-malam aku sendiri, hanya berteman sepi dan angin malam.
Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar menerpa hidupku dan bahagia pasti kan datang.
Sering kali ku renungi jalan hidupku yang tak tentu dan tak punya muara untuk dikunjungi.
Seberkas cahaya terang menyinari hidupku dan sesejuk embun lembut dipagi hari menjadikan semua insan sebagai dambaan didunia ini.

Seringku mencoba mengajarkan dan membimbingmu namunku gagal lagi.
Mungkin nasib ini suratan tanganku harus tabah menjalani.
Telah lama ku nantikan kesadaran dirimu menyapa dan menjunjung apa yang ku bimbing selama ini.
Meski hanya sehari, seminggu, dan sebulan tuhan tolong kabulkanlah.
Bukannya diri ini tak terima keadaan, hanya saja jiwa ini terkadang bimbang akan sebuah rasa yang ku miliki.
Percayalah kau pemilik hati ini. Mendekaplah dan rasakan cinta yang terdalam ini.
Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku menyayangimu percayalah tak ada yang lain.

Entahlah ku tak terlalu mengerti.!
Mungkin esok atau lusa kau akan mengerti dengan maunya hati yang ingin memuliakanmu dimuka bumi.
Aku akui sinis ku bersikap dan bertindak.
Aku juga akui kurangku menyapa dan bersuar denganmu.
Perlu kau ketahui aku begini demi kita dan mereka. Sebab peradaban tak butuh yang banyak bicara. Yang dia butuhkan tindakkan nyata dan implementasi ril dari insan yang tersadarkan akan penuh nilai.
Zaman sedang diambang huru hara.
Negara sedang mainkan oleh para komunis. Itu petanda dunia takkan lama lagi.

Ku istimewakan mu lewat isyarat kasih dan sayang agar kau merasakan kesungguhan cinta yang sejati.
Aku bukanlah insan yang mudah terlena oleh ruang sehingga dapat melupakan waktu yang merekam jejak memori.
Akulah sang perindu yang akan setia menantikan waktu keindahan itu datang dalam ruang yang mungkin kau curahkan berkahnya nanti.
Ku semaikan harapan dalam ruang tak bertepi agar kau tak terapit oleh massamu yang kau anggap itu kebenaran padahal ego semata.

Aku tak pandai dalam membaca pikiran, aku tak pandai dalam memahami keadaan, dan akupun tak pandai dalam memberi harapan.
Aku hanya bisa berkata, "inilah aku apa adanya dengan segala kekurangan yang ku miliki".
Hidup perlu kesadaran agar jiwa enggan memberontak tak tau arah dan tujuan.
Hidup perlu kebijaksanaan agar merasakan dan memahami keadaan sekitar.
Garis hidup memang beginilah adanya,
Karna ku sadar ketentuannya lebih kuasa dari ketentuan-ketentuan yang ada.

Hidup mungkin kau anggap adalah segalanya, hingga kau terhanyut dalam lautan materi yang membuatmu hanya memikirkan duniawi.
Mati mungkin kau anggap hanyalah mimpi yang bisa kau ceritakan diakala bangun mu nanti. Sehingga, kau dapat berbuat semua-maumu dan sesuka-sukamu.
Latih diri agar terus berzikir.
Maki diri jika tak senantiasa bersyukur atas nikmatnya.
Dan caci diri jika tak beristigfar ketika pernah melakukan kesalahan.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Kamis, 03 Oktober 2019

HEMBUSAN ANGIN CINTA



Ketika tanpa permisi aku menulis namamu di hatiku
Dan jauh sebelum kau menyadari
Cinta itu sudah tumbuh subur
Seperti busur yang menancap
Menembus dan terkunci


Karena, betapapun kau menolak
Telah kubingkai cinta di hatiku
Karena, aku tau alasanku menaruh hati
Aku tahu mengapa engkau yang kupilih
Sempat juga aku tidak ingin memberi tahu


Tentang perjalanan rasa cinta ini
Bergejolak di dalam hati
Cinta ini sudah memberontak
Ibrat balon yang terkena duri
Siap meledak, menunggu persetujuanmu.


Aku terkadang meletakkan cinta pada kaca matamu
Yang setiap hari mampu memendam bening indah matamu
Dan dirimulan penutup debaran pada pintu-pintu kerinduan


Ketika cinta kau simpan pada kerinduan
Menjelmakan cinta itu menjadi hujan
Menyiramkan kemarau dan memberikan kehidupan
Maafkan saja aku yang tidak bisa menghembuskan wajahmu

Membiarkan angin membawa bayangan mu pergi
Sebelum goresan pena ini berhenti
Tolong jangan salahkan aku
Tolong jangan katakan kalau kau terluka karena ku


Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
Berapa Juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
Awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
Kudengar berulang suara gelombang udara yang memecah bintang-bintang yang sedang gelisah
Telah rontok kemarau-kemarau yang tipis ada yang mendadak sepi

Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
Barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama

Kiliman Ariansyah

Rabu, 18 September 2019

KUBURAN RINDU



Segenap jiwa mengheningkan cipta
Menunggu angin membawa kabar gembira
Darimu ku belajar bercinta
Tanpamu ku merasa gundah
Aku bukan pelantun irama
Apalagi pembuat melodi indah
Aku hanya sayap surya yang merindukan cahaya purnama
Dersikan ombak memukul samudra
Membawa mimpi menuju angkasa
Langit terus menampung derita
Mendengar suara dari burung cemara
Ada sejarah yang terus terurai dalam cerita.?
Yah.. Kurasa tidak.!

Sebab sejarah telah tertutup oleh aroma pantai ampena
Aku bukan laut penampung sampah muara
Aku juga bukan pantai penampung derita
Akulah manusia penuh dengan dosa yang sedang merindukan kata bahagia
Seruling dunia telah dimainkan oleh pemilik kopmleks singaraja
Itu petanda bahwa ada yang sedang merasa tersiksa
Cintamu cintaku hanya cinta-cintaan
Seperti kuda yang sedang dikendarai dalam arena balapan

Wajah merona memberi aroma
Membuatku luluh dalam susana
Aku tak pandai merangkai kata
Hanya mampu bersuara lewat pena
Dalam hening penuh derita
Ku rangkai kata bersama luka
Adakah jalan untuk menuju roma
Agar ku temukan kasih yang seirama
Terminal kasih menerima untuk kau singgahi
Tapi tak rela untuk kau tinggal pergi dan menyimpan kenangan bersama luka
Jeritan penumpang terdengar riuh di setiap sudut pangkalan
Itu petanda resahnya rindu ini ingin bertemu

Tertati ku terharu Ingin meraih bintang tapi tak mampu
Semerbak harum bunga melati
Menambah haru pada jiwa menanti
Diam dengan Seribu derita hanya mampu menunggu cerita
Lautan api membakan jajaran pulau malaka
Memberi pukulan pada jiwa yang sedang merana
Teropong masa depan telah terbuka
Pemantik-pemantik kata mulai bersuara
Menunggu cahaya memberi petunjuk menuju surga
Bibir ini dapat membohongi rindu
Tapi rindu takkan pernah membohongi ruang dan waktu

Terimalah sajak ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Hancur hati ini melihat semua gambar diri yang tak bisa ku ulang kembali
Segala cara telah ku coba
Agar ku bisa tanpa dirimu
Namun, semua berbeda.!
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu.
Indah lentik matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu
Membuatku terbuai dalam peson mu
Berkali kali ku coba melepas semua beban rindu
Tapi tak mampu dan berujung pilu

Andai waktu bisa menjawab
Ku ingin bertanya apa aku telah bahagia
Ku rasa sang waktu jika bisa menjawab diapun tak ingin bersuara
Melihat derita yang tak kunjung usai
Salahkah jika ku tinggal pergi.?
Dosakah ku lepas diri.?
Entahlah.!!
Aku juga tak mengerti tentang cerita ini
Cerita yang menjebak ku dalam ruang tak berapit
Dan cerita yang membuangku dalam jurang kehancuran.
Pondok luka beri ku ruang untuk kuburan rindu
Agar ku kubur rindu ini bersama asmara lama.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Minggu, 15 September 2019

BENDERA ISTIMEWA


               

Tentang irama materi menghiasi hati dan pikiran ini, membuatku berimajinasi menembus batas kesadaran.
Istimewamu bukan hanya beri ilusi
Istimewamu bukan hanya beri opini
Tapi istimewamu adalah harga diri yang harus kami jaga dan kami rawat seperti diri sendiri.
Kamu bukan hanya lambang yang menjadi pembeda dari lambang-lambang yang ada.

Hijaumu mengajarkanku bahwa hidup butuh perjuangan dan pengorbanan.
Ku janjikan pada diri ini untuk tetap menjunjung tinggi nilai marwahmu.
Dan ku janjikan pada dunia untuk berdiri di atas lafas yang kau tanamkan pada jiwa dan raga ini.
Campuran warna kesempurnaan hijau hitam telah melekat dan menyatu bersama sukmaku.

Kamu bukan hanya warna yang menjadi pembeda dari warna-warna yang ada, Tapi kamulah jati diriku yang sesungguhnya.
Aku bisa berdedikasi berkatmu, Aku bisa memberi edukasi berkatmu, Dan aku bisa berekspresi karnamu.
Hitammu membuatku sadar bahwa gelap tak selalu suram. Akan ada jalan disetiap kesulitan, dan akan ada satu pintu yang terbuka dikala pintu-pintu dunia tertutup untukku.

Mimpiku indah jika membelaimu sebelum tidur.
Ku terbangun dikala irama mu dilantunkan oleh para kadermu.
Dan ku menangis jika melihat keterpurukanmu.
Hijau hitamku...
Kaulah nyawa dari segala nyawa.
Kaulah harta dari segala harta.
Kaulah cahaya dari segala cahaya.
Dan kaulah wadah dari segala wadah.
Sebab engkaulah pemantik dari semangat yang ada di setiap jiwa-jiwa kadermu yang tersadarkan akan penuh nilai.

Teropong masa depan telah terbuka, Pemantik-pemantik kata mulai bersuara, dan cahaya menuju surga telah nampak dalam ruang tak bertepi.
Aku, dia, dan mereka bisa membuka cakrawala yang tertutup semua itu berkat edukasi yang telah engkau tanamkan.
Singkirkan semua benalu yang membuat nafas tertati dalam ruang tak berapit.
Jayalah himpunanku.

Dari sejarah ke sejarah terus bercerita tentangmu.
Tentang sejuknya IMAN mu.
Tentang dalamnya ILMU mu.
Dan tentang ramahnya AMAL mu.
Aku sulit menemukan kalimat yang tepat untuk memujimu.
Jagat raya telah bersabda menyanjung namamu.
Langit telah berdoa untuk keselamatan kadermu.
Bumi mengikrarkan dirinya dan bersedia untuk kau berkibar diatasnya.
Seluruh isi alam semesta senantiasa berzikir memuja namamu.

Sembah sujud menuai air mata mengiringi langkah para pejuang muda.
Darah yang mulanya beku karna hambatan, kini telah kembali mengalir mendengar lantunan darah juang panah himpunan.
Kalimat Allah telah didengungkan, keringat menetes bukan halangan.
Dir Dar Dor bunyi tembakan, sedikitpun tak membuatku surut dalam gerakan.
Itu semua berkat ilmu dan keberanian yang telah kau titipkan.
Jika bukan tanpamu, aku tak tau kemana arah negara ini berpijak.

 Dalam hujan tangis perbedaan.
Tokoh masyumi bisa duduk manis dengan tokoh nahdatul ulama berdiskusi kesejahteraan.
Dalam himpunan mahasiswa islam dalam kristis nasionalis, tokoh muhammadiyah dapat bersulang teh manis sembari bertukar pikiran dengan tokoh persis.
Sebab dalam himpunan mahasiswa islam, tokoh manapun, organisasi apapun, bahkan dengan tokoh nasionalis sekalipun bisa berpelukan mesra bahkan lebih mesra dari sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta.

Himpunan mahasiswa islam mengajarkan bagaimana membangun negara ini dengan benar.
Himpunan Mengajarkan menghargai prularisme dan kebinekaan.
Himpunan mengajarkan tentang bebas merdeka asal tidak melanggar hak orang lain.
Apapun bentuknya, apapun warnanya, apapun agamanya, atau apapun itu, semuanya merupakan kader-kader bangsa.

Sebab tidak ada kata saling mengkafirkan karna kekuatan intelektual menjadi rujukan utama.
Ramai menyeruak membela kebenaran.
Berani bersuara lewat aksi hancurkan tirani.
Bersama hancurkan karang pemisah antara kita dan mereka.
Bersama raih kemenangan dan mewujudkan cita-cita mulia bangsa dan negara.
Dan kita sebagai mahasiswa rugi rasanya jika hanya diam terpaku mengikuti alur waktu perkuliahan.

Mari berhimpun bersama kami dan menjadi bagian dari jiwa kami.
Mari berproses demi kemajuan dan persatuan bangsa dan negara.
Mari berHMI agar kita temukan jati diri yang sesungguhnya.
Hidup mahasiswa.!
Jayalah HMI.!

Penulis: Kiliman Ariansyah

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...