Ketika tanpa permisi aku menulis namamu di hatiku
Dan jauh sebelum kau menyadari
Cinta itu sudah tumbuh subur
Seperti busur yang menancap
Menembus dan terkunci
Cinta itu sudah tumbuh subur
Seperti busur yang menancap
Menembus dan terkunci
Karena, betapapun kau menolak
Telah kubingkai cinta di hatiku
Karena, aku tau alasanku menaruh hati
Telah kubingkai cinta di hatiku
Karena, aku tau alasanku menaruh hati
Aku tahu mengapa engkau yang kupilih
Sempat juga aku tidak ingin memberi tahu
Tentang perjalanan rasa cinta ini
Bergejolak di dalam hati
Sempat juga aku tidak ingin memberi tahu
Tentang perjalanan rasa cinta ini
Bergejolak di dalam hati
Cinta ini sudah memberontak
Ibrat balon yang terkena duri
Siap meledak, menunggu persetujuanmu.
Ibrat balon yang terkena duri
Siap meledak, menunggu persetujuanmu.
Aku terkadang meletakkan cinta pada kaca matamu
Yang setiap hari mampu memendam bening indah matamu
Dan dirimulan penutup debaran pada pintu-pintu kerinduan
Yang setiap hari mampu memendam bening indah matamu
Dan dirimulan penutup debaran pada pintu-pintu kerinduan
Ketika cinta kau simpan pada kerinduan
Menjelmakan cinta itu menjadi hujan
Menyiramkan kemarau dan memberikan kehidupan
Menjelmakan cinta itu menjadi hujan
Menyiramkan kemarau dan memberikan kehidupan
Maafkan saja aku yang tidak bisa menghembuskan wajahmu
Membiarkan angin membawa bayangan mu pergi
Membiarkan angin membawa bayangan mu pergi
Sebelum goresan pena ini berhenti
Tolong jangan salahkan aku
Tolong jangan katakan kalau kau terluka karena ku
Tolong jangan salahkan aku
Tolong jangan katakan kalau kau terluka karena ku
Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
Berapa Juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
Awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
Kudengar berulang suara gelombang udara yang memecah bintang-bintang yang sedang gelisah
Telah rontok kemarau-kemarau yang tipis ada yang mendadak sepi
Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
Barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama
Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama
Kiliman Ariansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar