Sabtu, 26 Oktober 2019

Rindu Telah Mati


Tempo lalu, ketika langit menjadi saksi
dan kopi menjadi bukti kita duduk di ambang pintu, menikmati suguhan langit bersama sunset.
Terlalu kuno memang bagi para pengelana cinta, tapi kita selalu memiliki cara untuk bahagia.
Ibarat hujan, ketika ia datang menghampiri, Ia serupa sajak yang belum usai untuk dibaca esok hari.
Aku pernah mengagumi Fajar lebih dari segalanya. Tapi itu dulu, entah kenapa kagum itu pudar layaknya bulan tertutup kabut.

Dulu kau selalu menjadi alasanku untuk ‘pulang’.
Di kota yang membuatku mengenang segala kenangan yang kita lalui bersama, dulu. Namun kini, semuanya berubah pilu dan kau tak lagi menjadi alasan dari kepulanganku.
Tempo lalu aku sering kali terbuai penasaran, seperti apa rasanya menyimak rinduku di balik layar, sambil melihatmu asyik menyandarkan pipi di bahuku.
Sekarang penarasan itu tak lagi berarti. Sebab, bidadari tak bersayap telah menghias relung hati.

Banyak yang hilang dari kota ini. tapi satu yang tak pernah hilang, bahkan selalu menyala dalam memori, yaitu kenangan suram paska itu.
Kenangan yang membuatku terkucilkan, Kenangan yang membanting rasa, dan kenangan yang menyadarkanku bahwa status sosial kita beda.
Tetaplah jadi bintang bagi mereka, berikan kilau indahmu selalu untuk mereka.
Aku do'akan semoga kau dan mereka selalu dalam bahagia. Kuharap takkan ada lagi korban amukan rasa yang kecewa oleh tingkah mereka, karna dekat dengan bintangnya.

Di hilangmu kali ini tuan.
Kunikmati saja perih yang meraja
Mungkin engkau tak berkehendak menengok hatimu. Namun, kutahu istanamu tak lagi terasa sama
Sejak kau bawa serta hatiku pulang ke sana.
Dari kotamu sempat kutemukan tenang, dari dirimu sempat kutemukan nyaman. Kemudian engkau menghilang, tak kutemukan tenang di kota lain tuan.
Kupikir ini rindu, ternyata candu yang telah menjadi tabu.
Kupikir akan jadi romansa, ternyata hanya sebuah fatamorgana.

Di atas bangku taman itu dulu, daun-daun di musim gugur, debu-debu luruh, dan angin yang membisu, adalah saksi akan sebuah tunggu yang beribu.
Untukmu yang tak lagi kutunggu, tabahku bagai bangku taman usang, yang rela dihujani dedaun dimusim gugur. Aksara puisiku berserakan, berjatuhan serupa daun kering. Dengan piluh kupunguti satu persatu menjadi komposisi rindu yang berujung amarah.
Akupun ambil posisi dan milih pergi. Dalam hati ku berucap, "Semoga kau tak merasakan apa yang kurasa".
Eh ternyata, semesta mencatat semua yang kurasa pada hari itu.

Dan kini semesta sangat suka melihatmu kesakitan menahan rindu, sebab dalam kesakitan menahan rindu kau akan mengerti tentang rasa dan asaku dulu.
Kesakitanpun akan membuatmu memilih bertemu atau hanya terus merindu tuan.
Kuharap kau tak menyimpan dendam karna ku memilih pergi.
Kuingin kau tau bahwa aku bukan sicundang rasa seperti yang kau kenal dulu. Kini semua telah berubah.
Aku dan kau telah beda jalan dan status. Ijinkan ku hidup bahagia dengan pilihanku. Jangan lagi kau usik, hingga memicu aku dan dia bertengkar karna ulahmu.

Aku rasa kau mengerti makna dari sajak ini, karna kau bukan anak kecil yang mesti dijelaskan secara detail akan maknanya.

Penulis: KILIMAN ARIANSYAH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...