Biru yang damaikah?
Atau merah yang bergairah?
Ayolah, Kita sedang membicarakan cinta, Bukan partai pengemis suara.
Kau bagian dari hidupku yang tak akan pernah memudarkan harapan dan tersimpan abadi dalam relung hati.
Yang ku takuti dari mawar adalah hilangnya wangi yang damai dan berubah menjadi duri yang menyakiti.
Jika mencintaimu adalah mata pelajaran, maka aku akan hadir dan duduk paling depan agar dapat kau kesungguhan cinta yang kumiliki.
Bagaimana mungkin kau kan percaya akan rindu ini. Bila kau menganggap itu semua sebagai suatu hal yang palsu nan tabu.
Bisa tidak kau pahami sedikit hatiku.? Aku bukan melebihkanmu tapi aku justru memperhatikanmu.!
Menyukai orang sedingin dirimu buat aku sadar, jika kau menaruh perhatian tidak pada sembarang orang.
Kelelahan akan selalu datang untuk orang-orang yang tak mengerti arah, tak tahu dengan tujuannya, dan selalu merasa tak punya capaian.
Begitupun dengan diriku yang kini tak mengerti arah mana yang sedang kuperjuangkan.
Aku tersesat dalam tujuan yang semestinya mudah kutempuh.
Tujuan itu mungkin tentangmu atau tidak sama sekali.
Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta. Sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala.
Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan, pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan.
Senyatanya sepi adalah aku, perempuan yang kerap ditinggalkan cinta dan rindu bersama bayang semu.
Kalau rindu itu peluru, engkau pasti penembak paling jitu.
meski rinduku tak kau balas, meski rasa sayangku tak pernah kau anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat. Hanya Tuhan yang mampu membuatmu dekat.
Hingga hujan redah, kita masih ragu siapa yang ingin memulai suara.
Jarum jam terus berputar semakin mendesak tapi kau dan aku masih gengsi untuk bersuara.
Hingga akhirnya rela menyiksa diri.
Malam semakin pekat dan kita tetap saling menunggu siapa yang memulai mengeluarkan suara “aku mencintaimu dan aku ingin berjumpa selayaknya dulu".
Mungkin di benakmu terselip sebuah rasa, tapi dalam pikirmu masih ada dendam yang membara.
Jangan pernah meninggalkan seseorang yang sungguh-sungguh mecintaimu demi orang lain yang membuatmu buta dalam mencinta.
Biarkan tuhan yang menentukan keadaan kau dan aku.
Yang pasti rasaku takkan bisa dipudarkan oleh apapun, meskipun itu amarah.
Penulis: Kiliman Ariansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar