Senin, 06 Januari 2020
Mimpi Perkosalah Rasa
Ku rangkai kata dalam sebuah puisi lara, Ku kemas duka dalam bejana siksa, ku jadikan sketsa hayalan untuk menikmati saat kelam menghampiri jiwa.
torehan luka demi luka silih berganti merongrong raga. Ingin rasa menjerit membelah langit, namun apa daya berbisik pun aku tak bergemit.
Kini, aku termenung melukis cerita dalam renungan panjang.
Aku hanya sekeping rasa yang menjelma menjadi sebuah asa.
Asa yg dulu pernah di bangun bersama sebelum Akhir nya dia pergi meninggalkan jejak yang ku sebut itu luka.
Bisakan aku bertahan dan memecahkan keheningan malam? Mungkin!
ketika hati berteriak karna segundang rasa, seketika itupun masa berlalu dan sirnah serupa bayangan asmara.
Ketika jiwa meraung karna seribu luka, seketika itupula kau jajal dan poles dengan buaian rasa.
Bingung, entah cerita mana yang mesti kuselesaikan agar tak ada gundah dalam raga.
Tubuh terpaku diam tak berdaya
terpuruk karna dunia yang kejam
menyiksa dengan seribu kesedihan.
oh… dunia dimanakah kebahagian itu?
Dimanakah kau menyembunyikannya?
Magrib itu kau cumbu diriku dengan desir rindu.
Gemerisik kota menghancurkan nyenyat yang kucipta diam-diam.
Kulantunkan ayat-ayat renjana pada bibir-bibir kubah yang menggema pada dinding-dinding musholah.
Sebagian diriku risak, ada desir yang mengguncang hebat, lagi-lagi aku tercekat pada adzan yang merdu di sudut-sudut kota.
Sejujurnya, ingin kututup semua kisah agar tak lagi ada asa yang tersisa untuknya.
Ketika sang angin membisiksan tentang itu, aku hanya dapat tersenyum menyembunyikan lara.
Aku tidak pernah mengerti apa yang dimaksud, tapi kurasakan adanya dan seakan menyentuh hingga menusuk kalbu dan membuat hati menjadi bisu.
Entah apa yang sang angin ingin sampaikan.!
Harapan hanya berita kesenangan tanpa ada kedukaan dalam hati.
Tapi nyatanya sang angin bermaksud lain, rasa gelisah tertanam dihati seketika.
Kumohon, jangan lagi menyiksa raga karna ku sudah sanggup menghiasi bibir dengan senyuman palsu.
Kamu bagaikan bunga tidur disepanjang hari yang slalu menutupi mata untuk diri yang sedang menderita.
Aku telah terlaalu jauh berharap kisah indah dalam hidup, sehingga panoraman hidup memberika kesejukkan yang sempurna.
Hingga saatku tersadar itu hanya mimpi penenang tidur panjang.
Aku tidak pernah tau apa isi hatimu.
Karna hatimu yang slalu membeku
Kepada aku yang slalu menunggu.
Sampai kapan aku harus menunggu?
Menunggu hadirmu disini, di hatiku,
Tempat yang slalu menyebut namamu disetiap waktu.
Mungkin aku harus sadar kalau aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Akupun bukan orang yang dapat dibanggakan dan bukan pula yang dapat membanggakan.
Aku rela…
Jika harus memandangimu walau tak sedikitpun tersudut senyum di bibirmu.
Aku sanggup.
Jika harus berkali-kali di tampar oleh kata-kata mu yang tak pernah mau menerimaku.
Aku terima...
Jika kau terus-menerus menyuruh ku untuk pergi tinggalkan mu dan jangan pernah kembali.. katamu!
Andai kabar besar itu datang tanpa diundang, asaku tetap luluh lantak menyambut hari bahagiamu.
Saat kulihat bidadariku marah, pondasi cintaku pun runtuh dalam sekejap dan Menyisakan puing penyesalan yang mendalam.
Wahai bidadariku.
Dengarlah harapan dari sisa keyakinanku.
Ku ingin cinta kita sekuat karang.
Jangan biarkan rindu terkikis.
Jangan biarkan harapan kita menipis.
Dewasa adalah tujuan utama mencari jiwa agar mudah diberi nama.
Terkadang maknanya sedikit salah, melampaui kisah sedikit resah.
kini aku sudah tak biasa, kini aku sudah tak merasa bersama mereka disela lara.
hidup di pinggir kota berbagi cerita bersama di teman lama.
kini aku berkaca, bukan saatnya aku bercanda.
Tersentak, terbangunku dari lelapnya tidurku.
Peluh banjiri tubuh lelah ini, fikiran berkecamuk, desak ingatan akan mimpiku barusan.
Air mata pun tak dapat kubendung hati bagai tercabik cabik, luka begitu dalam yang sedang kualami terbawa mimpi.
Ku ingin beristirahat
Karna tubuh ku sudah terlalu penat, mataku pun sudah terlalu berat dan tak sanggup lagi untuk menatap.
Biarkanlah aku tertidur.!
Biarkanlah semua masalahku hancur dan jangan pernah bangunkan aku, disaat mimpi indah menemani tidurku dan disaat Mimpi indah mewarnai kehidupanku.
Tak perlu risau karna aku akan tetap hidup bersama rasa meski diperkosa oleh mimpi.
Penulis : Kiliman Ariansyah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar