Senin, 28 Oktober 2019
Rindu Juga Butuh Istrahat
Pada tegukan kopi terakhirku, tercurah harap dan cita.
Moga sapa pertamamu, awal kisah kita.
Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?
Nyatanya, hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualangmu.
Nyatanya, cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu.
Lalu aku bisa apa?
Mengais belas kasihanmu yang kau cecer sepanjang jalan?
Bukan, itu bukan cinta Jika hanya membawa luka dan derita.
Aku sempat cemburu pada awan, yang sering kali kau pandang.
Selalu ada yang melintas di kepala, entah itu syairmu, atau wajahmu yang hanya bisa kureka.
Rindu selalu punya cara sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang.
Setiap orang memiliki batas kewarasannya masing-masing. Hanya saja, memilih bertahan, diam, atau melepaskan adalah kesepakatan hati dan akal. Pun kau yang sering pulang bertandang dan pergi menghilang.
Jika rindumu tak lagi jadi milikku. Lantas, apalagi alasanku kembali ke kota ini?
Ada jarak yang terbentang karena rindu. Ada cerita yang terbuat karena jarak.
Aku percaya, ceritamu dan ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu.
Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat.
Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam
jernihnya selalu menatapmu.
Selalu ada yang tak diceritakan,
langit kepada hujan.
Entah pagi bersambut kabut,
Atau mendung yang bikin murung.
Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing-masing.
Serupa gelombang lautan, rindu datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kau kejar.
Rindu bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Rindu juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga.
Ah, biarlah …
Rindu tak butuh kata-kata.
Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu.
Gemelisik daun kering menyadarkanku
bahwa semestamu bukanlah aku.
Kerontang daun terseret angin
melebur menjadi luka hatiku.
Aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan, dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan.
Tak semudah itu merangkai kata.
Jika pun sudah terangkai bibir tak semudah itu mengatakannya, dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan.
Rindu ibarat sajak yang terangkai indah, yang siap disajikan pada pembaca.
Selanjutnya tinggal pembaca yang menilai, apakah menyentuh atau tidak.
Rindu juga ibarat mengaji huruf tanpa aksara, ada tapi jarang yang bisa membaca. Mungkin Rindu adalah hantu, atau mungkin tuhan.?
Entahlah..!
Yang dapat mengerti rindu, dia yang tau tentang Merindu. Dan satu yang ku pelajari dalam merindu, yaitu rinduku adalah mencintaimu.!
Penulis : KILIMAN ARIANSYAH
Sabtu, 26 Oktober 2019
Rindu Telah Mati
dan kopi menjadi bukti kita duduk di ambang pintu, menikmati suguhan langit bersama sunset.
Terlalu kuno memang bagi para pengelana cinta, tapi kita selalu memiliki cara untuk bahagia.
Ibarat hujan, ketika ia datang menghampiri, Ia serupa sajak yang belum usai untuk dibaca esok hari.
Aku pernah mengagumi Fajar lebih dari segalanya. Tapi itu dulu, entah kenapa kagum itu pudar layaknya bulan tertutup kabut.
Dulu kau selalu menjadi alasanku untuk ‘pulang’.
Di kota yang membuatku mengenang segala kenangan yang kita lalui bersama, dulu. Namun kini, semuanya berubah pilu dan kau tak lagi menjadi alasan dari kepulanganku.
Tempo lalu aku sering kali terbuai penasaran, seperti apa rasanya menyimak rinduku di balik layar, sambil melihatmu asyik menyandarkan pipi di bahuku.
Sekarang penarasan itu tak lagi berarti. Sebab, bidadari tak bersayap telah menghias relung hati.
Banyak yang hilang dari kota ini. tapi satu yang tak pernah hilang, bahkan selalu menyala dalam memori, yaitu kenangan suram paska itu.
Kenangan yang membuatku terkucilkan, Kenangan yang membanting rasa, dan kenangan yang menyadarkanku bahwa status sosial kita beda.
Tetaplah jadi bintang bagi mereka, berikan kilau indahmu selalu untuk mereka.
Aku do'akan semoga kau dan mereka selalu dalam bahagia. Kuharap takkan ada lagi korban amukan rasa yang kecewa oleh tingkah mereka, karna dekat dengan bintangnya.
Di hilangmu kali ini tuan.
Kunikmati saja perih yang meraja
Mungkin engkau tak berkehendak menengok hatimu. Namun, kutahu istanamu tak lagi terasa sama
Sejak kau bawa serta hatiku pulang ke sana.
Dari kotamu sempat kutemukan tenang, dari dirimu sempat kutemukan nyaman. Kemudian engkau menghilang, tak kutemukan tenang di kota lain tuan.
Kupikir ini rindu, ternyata candu yang telah menjadi tabu.
Kupikir akan jadi romansa, ternyata hanya sebuah fatamorgana.
Di atas bangku taman itu dulu, daun-daun di musim gugur, debu-debu luruh, dan angin yang membisu, adalah saksi akan sebuah tunggu yang beribu.
Untukmu yang tak lagi kutunggu, tabahku bagai bangku taman usang, yang rela dihujani dedaun dimusim gugur. Aksara puisiku berserakan, berjatuhan serupa daun kering. Dengan piluh kupunguti satu persatu menjadi komposisi rindu yang berujung amarah.
Akupun ambil posisi dan milih pergi. Dalam hati ku berucap, "Semoga kau tak merasakan apa yang kurasa".
Eh ternyata, semesta mencatat semua yang kurasa pada hari itu.
Dan kini semesta sangat suka melihatmu kesakitan menahan rindu, sebab dalam kesakitan menahan rindu kau akan mengerti tentang rasa dan asaku dulu.
Kesakitanpun akan membuatmu memilih bertemu atau hanya terus merindu tuan.
Kuharap kau tak menyimpan dendam karna ku memilih pergi.
Kuingin kau tau bahwa aku bukan sicundang rasa seperti yang kau kenal dulu. Kini semua telah berubah.
Aku dan kau telah beda jalan dan status. Ijinkan ku hidup bahagia dengan pilihanku. Jangan lagi kau usik, hingga memicu aku dan dia bertengkar karna ulahmu.
Aku rasa kau mengerti makna dari sajak ini, karna kau bukan anak kecil yang mesti dijelaskan secara detail akan maknanya.
Penulis: KILIMAN ARIANSYAH.
Kamis, 24 Oktober 2019
Cinta Bukan Partai Pengemis Suara
Biru yang damaikah?
Atau merah yang bergairah?
Ayolah, Kita sedang membicarakan cinta, Bukan partai pengemis suara.
Kau bagian dari hidupku yang tak akan pernah memudarkan harapan dan tersimpan abadi dalam relung hati.
Yang ku takuti dari mawar adalah hilangnya wangi yang damai dan berubah menjadi duri yang menyakiti.
Jika mencintaimu adalah mata pelajaran, maka aku akan hadir dan duduk paling depan agar dapat kau kesungguhan cinta yang kumiliki.
Bagaimana mungkin kau kan percaya akan rindu ini. Bila kau menganggap itu semua sebagai suatu hal yang palsu nan tabu.
Bisa tidak kau pahami sedikit hatiku.? Aku bukan melebihkanmu tapi aku justru memperhatikanmu.!
Menyukai orang sedingin dirimu buat aku sadar, jika kau menaruh perhatian tidak pada sembarang orang.
Kelelahan akan selalu datang untuk orang-orang yang tak mengerti arah, tak tahu dengan tujuannya, dan selalu merasa tak punya capaian.
Begitupun dengan diriku yang kini tak mengerti arah mana yang sedang kuperjuangkan.
Aku tersesat dalam tujuan yang semestinya mudah kutempuh.
Tujuan itu mungkin tentangmu atau tidak sama sekali.
Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta. Sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala.
Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan, pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan.
Senyatanya sepi adalah aku, perempuan yang kerap ditinggalkan cinta dan rindu bersama bayang semu.
Kalau rindu itu peluru, engkau pasti penembak paling jitu.
meski rinduku tak kau balas, meski rasa sayangku tak pernah kau anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat. Hanya Tuhan yang mampu membuatmu dekat.
Hingga hujan redah, kita masih ragu siapa yang ingin memulai suara.
Jarum jam terus berputar semakin mendesak tapi kau dan aku masih gengsi untuk bersuara.
Hingga akhirnya rela menyiksa diri.
Malam semakin pekat dan kita tetap saling menunggu siapa yang memulai mengeluarkan suara “aku mencintaimu dan aku ingin berjumpa selayaknya dulu".
Mungkin di benakmu terselip sebuah rasa, tapi dalam pikirmu masih ada dendam yang membara.
Jangan pernah meninggalkan seseorang yang sungguh-sungguh mecintaimu demi orang lain yang membuatmu buta dalam mencinta.
Biarkan tuhan yang menentukan keadaan kau dan aku.
Yang pasti rasaku takkan bisa dipudarkan oleh apapun, meskipun itu amarah.
Penulis: Kiliman Ariansyah
Selasa, 22 Oktober 2019
JIWA DIPERKOSA RASA
Rintih hati bergejolak menyuarakan dersik langkah pagi ini, menahanku untuk tetap tinggal di dasar luka bersama pilu.
Langkahpun kian tertati menyisiri alunan amukan hati yang terus beraduh bersama lara, memaksa diri untuk tetap berada di sisi suram ini.
Kiniku terjebak dalam kebinggungan yang mendasar di ruang polemik jiwa dan rasa.
Ingin jiwa untuk mundur dan mencari wadah yang lain, tapi rasa tak mau renggang dengan seberkas sinar harapan itu.
Ingin sekali jiwa menyalakan tanda bahaya ketika gemuruh riuh problem menghampiri batin, tapi rasa tetap hadirkan berlian sewalaupun suar menggelegar menembus batas kesabaran diri.
Terkadang dunia terasa sempit dikala rasa menguasai jiwa, dan terkadang pula dunia seakan milik saya dikala jiwa menguasai rasa.
Bingung sih iya, tapi mau gimana lagi.
Rasa telah menjajahi jiwa hingga raga pun kian tersiksa.
Jauh sudah langkahku menyusuri hidupmu yang penuh tanda tanya.
Kadang hati bimbang menentukan sikapmu, tiada tempat mengaduh.
Hanya iman didadah yang membuatku mampu selalu tabah menjalani.
Malam-malam aku sendiri, hanya berteman sepi dan angin malam.
Hanya satu keyakinanku. Bintang kan bersinar menerpa hidupku dan bahagia pasti kan datang.
Sering kali ku renungi jalan hidupku yang tak tentu dan tak punya muara untuk dikunjungi.
Seberkas cahaya terang menyinari hidupku dan sesejuk embun lembut dipagi hari menjadikan semua insan sebagai dambaan didunia ini.
Seringku mencoba mengajarkan dan membimbingmu namunku gagal lagi.
Mungkin nasib ini suratan tanganku harus tabah menjalani.
Telah lama ku nantikan kesadaran dirimu menyapa dan menjunjung apa yang ku bimbing selama ini.
Meski hanya sehari, seminggu, dan sebulan tuhan tolong kabulkanlah.
Bukannya diri ini tak terima keadaan, hanya saja jiwa ini terkadang bimbang akan sebuah rasa yang ku miliki.
Percayalah kau pemilik hati ini. Mendekaplah dan rasakan cinta yang terdalam ini.
Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku menyayangimu percayalah tak ada yang lain.
Entahlah ku tak terlalu mengerti.!
Mungkin esok atau lusa kau akan mengerti dengan maunya hati yang ingin memuliakanmu dimuka bumi.
Aku akui sinis ku bersikap dan bertindak.
Aku juga akui kurangku menyapa dan bersuar denganmu.
Perlu kau ketahui aku begini demi kita dan mereka. Sebab peradaban tak butuh yang banyak bicara. Yang dia butuhkan tindakkan nyata dan implementasi ril dari insan yang tersadarkan akan penuh nilai.
Zaman sedang diambang huru hara.
Negara sedang mainkan oleh para komunis. Itu petanda dunia takkan lama lagi.
Ku istimewakan mu lewat isyarat kasih dan sayang agar kau merasakan kesungguhan cinta yang sejati.
Aku bukanlah insan yang mudah terlena oleh ruang sehingga dapat melupakan waktu yang merekam jejak memori.
Akulah sang perindu yang akan setia menantikan waktu keindahan itu datang dalam ruang yang mungkin kau curahkan berkahnya nanti.
Ku semaikan harapan dalam ruang tak bertepi agar kau tak terapit oleh massamu yang kau anggap itu kebenaran padahal ego semata.
Aku tak pandai dalam membaca pikiran, aku tak pandai dalam memahami keadaan, dan akupun tak pandai dalam memberi harapan.
Aku hanya bisa berkata, "inilah aku apa adanya dengan segala kekurangan yang ku miliki".
Hidup perlu kesadaran agar jiwa enggan memberontak tak tau arah dan tujuan.
Hidup perlu kebijaksanaan agar merasakan dan memahami keadaan sekitar.
Garis hidup memang beginilah adanya,
Karna ku sadar ketentuannya lebih kuasa dari ketentuan-ketentuan yang ada.
Hidup mungkin kau anggap adalah segalanya, hingga kau terhanyut dalam lautan materi yang membuatmu hanya memikirkan duniawi.
Mati mungkin kau anggap hanyalah mimpi yang bisa kau ceritakan diakala bangun mu nanti. Sehingga, kau dapat berbuat semua-maumu dan sesuka-sukamu.
Latih diri agar terus berzikir.
Maki diri jika tak senantiasa bersyukur atas nikmatnya.
Dan caci diri jika tak beristigfar ketika pernah melakukan kesalahan.
Penulis : Kiliman Ariansyah
Kamis, 03 Oktober 2019
HEMBUSAN ANGIN CINTA
Ketika tanpa permisi aku menulis namamu di hatiku
Dan jauh sebelum kau menyadari
Cinta itu sudah tumbuh subur
Seperti busur yang menancap
Menembus dan terkunci
Cinta itu sudah tumbuh subur
Seperti busur yang menancap
Menembus dan terkunci
Karena, betapapun kau menolak
Telah kubingkai cinta di hatiku
Karena, aku tau alasanku menaruh hati
Telah kubingkai cinta di hatiku
Karena, aku tau alasanku menaruh hati
Aku tahu mengapa engkau yang kupilih
Sempat juga aku tidak ingin memberi tahu
Tentang perjalanan rasa cinta ini
Bergejolak di dalam hati
Sempat juga aku tidak ingin memberi tahu
Tentang perjalanan rasa cinta ini
Bergejolak di dalam hati
Cinta ini sudah memberontak
Ibrat balon yang terkena duri
Siap meledak, menunggu persetujuanmu.
Ibrat balon yang terkena duri
Siap meledak, menunggu persetujuanmu.
Aku terkadang meletakkan cinta pada kaca matamu
Yang setiap hari mampu memendam bening indah matamu
Dan dirimulan penutup debaran pada pintu-pintu kerinduan
Yang setiap hari mampu memendam bening indah matamu
Dan dirimulan penutup debaran pada pintu-pintu kerinduan
Ketika cinta kau simpan pada kerinduan
Menjelmakan cinta itu menjadi hujan
Menyiramkan kemarau dan memberikan kehidupan
Menjelmakan cinta itu menjadi hujan
Menyiramkan kemarau dan memberikan kehidupan
Maafkan saja aku yang tidak bisa menghembuskan wajahmu
Membiarkan angin membawa bayangan mu pergi
Membiarkan angin membawa bayangan mu pergi
Sebelum goresan pena ini berhenti
Tolong jangan salahkan aku
Tolong jangan katakan kalau kau terluka karena ku
Tolong jangan salahkan aku
Tolong jangan katakan kalau kau terluka karena ku
Aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
Berapa Juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
Awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
Kudengar berulang suara gelombang udara yang memecah bintang-bintang yang sedang gelisah
Telah rontok kemarau-kemarau yang tipis ada yang mendadak sepi
Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
Barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama
Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama
Kiliman Ariansyah
Langganan:
Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...




