Senin, 16 Maret 2020

Demokrasi Sumber Geopolitik



penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi.
Pemisahan wewenang, check and balancing, supremasi hukum, dan kesetaraan keadilan bagi semua orang, mesti dijunjung tinggi oleh para pemangku tahta.!
Betapa berbahayanya jika hal tersebut diabaikan. Kekuasaan tidak menjamin keamanan disegala penjuru jika demokrasi masih dijadikan sebagai alat rumusan kejahatan yang struktural.

Keadaan darurat yang diterapkan secara serampangan oleh sistem kekuasaan hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Jika negara begitu gampang menangguhkan konstitusi dan prosedur-prosedur demokrasi pengambilan keputusan dengan alasan kedaruratan, hal itu bisa menjadi bahan bakar bagi masyarakat untuk menangguhkan ketaatan terhadap negara.
Telaah Kritis hasil pemikiran Demokrasi Dinasti menjadi alasan masyarakat untuk bertindak diluar dari akal sehat.

Penerapan keadaan darurat oleh rezim demokrasi di belahan dunia mana pun memang harus benar-benar diwaspadai. Sebut saja darurat terorisme, darurat radikalisme, atau darurat narkoba.
Jangan-jangan kedaruratan ialah kedok dari ketidak mampuan negara untuk menyelenggarakan kekuasaan secara demokratis.
Bolehkah suatu rezim demokrasi menerapkan keadaan darurat atau status darurat?
Jawabannya, tentu saja boleh. Asal ada mahar dan salam dua periode.
Bima sedang berduka dalam alur demokrasi.
"Dari Rakyat"
"Oleh Rakyat"
"Untuk Menipu Rakyat".

Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi Juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pilkada di depan mata. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan. Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.

Jika sudah pernah duduk di legislatif, eksekutif, dan yudikatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/wakil gubernur atau walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.

Demokrasi menjadi kian tidak jelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis politik dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula calon dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar. Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan. Politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.
Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri dan menipu rakyat.

Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.
Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan tidak manusiawi untuk duduk di kursi kepemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa.
Selamtkan rakyat dari genggaman demokrasi darurat.!
Rakyat butuh kedaulatan.!
Majukan Bima untuk keturunan kelak.

Penulis : Kiliman Ariyansyah

Senin, 06 Januari 2020

Mimpi Perkosalah Rasa



Ku rangkai kata dalam sebuah puisi lara, Ku kemas duka dalam bejana siksa, ku jadikan sketsa hayalan untuk menikmati saat kelam menghampiri jiwa.
torehan luka demi luka silih berganti merongrong raga. Ingin rasa menjerit membelah langit, namun apa daya berbisik pun aku tak bergemit.
Kini, aku termenung melukis cerita dalam renungan panjang.
Aku hanya sekeping rasa yang menjelma menjadi sebuah asa.
Asa yg dulu pernah di bangun bersama sebelum Akhir nya dia pergi meninggalkan jejak yang ku sebut itu luka.

Bisakan aku bertahan dan memecahkan keheningan malam? Mungkin!
ketika hati berteriak karna segundang rasa, seketika itupun masa berlalu dan sirnah serupa bayangan asmara.
Ketika jiwa meraung karna seribu luka, seketika itupula kau jajal dan poles dengan buaian rasa.
Bingung, entah cerita mana yang mesti kuselesaikan agar tak ada gundah dalam raga.
Tubuh terpaku diam tak berdaya
terpuruk karna dunia yang kejam
menyiksa dengan seribu kesedihan.
oh… dunia dimanakah kebahagian itu?
Dimanakah kau menyembunyikannya?

Magrib itu kau cumbu diriku dengan desir rindu.
Gemerisik kota menghancurkan nyenyat yang kucipta diam-diam.
Kulantunkan ayat-ayat renjana pada bibir-bibir kubah yang menggema pada dinding-dinding musholah.
Sebagian diriku risak, ada desir yang mengguncang hebat, lagi-lagi aku tercekat pada adzan yang merdu di sudut-sudut kota.
Sejujurnya, ingin kututup semua kisah agar tak lagi ada asa yang tersisa untuknya.

Ketika sang angin membisiksan tentang itu, aku hanya dapat tersenyum menyembunyikan lara.
Aku tidak pernah mengerti apa yang dimaksud, tapi kurasakan adanya dan seakan menyentuh hingga menusuk kalbu dan membuat hati menjadi bisu.
Entah apa yang sang angin ingin sampaikan.!
Harapan hanya berita kesenangan tanpa ada kedukaan dalam hati.
Tapi nyatanya sang angin bermaksud lain, rasa gelisah tertanam dihati seketika.
Kumohon, jangan lagi menyiksa raga karna ku sudah sanggup menghiasi bibir dengan senyuman palsu.

Kamu bagaikan bunga tidur disepanjang hari yang slalu menutupi mata untuk diri yang sedang menderita.
Aku telah terlaalu jauh berharap kisah indah dalam hidup, sehingga panoraman hidup memberika kesejukkan yang sempurna.
Hingga saatku tersadar itu hanya mimpi penenang tidur panjang.
Aku tidak pernah tau apa isi hatimu.
Karna hatimu yang slalu membeku
Kepada aku yang slalu menunggu.
Sampai kapan aku harus menunggu?
Menunggu hadirmu disini, di hatiku,
Tempat yang slalu menyebut namamu disetiap waktu.
Mungkin aku harus sadar kalau aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Akupun bukan orang yang dapat dibanggakan dan bukan pula yang dapat membanggakan.

Aku rela…
Jika harus memandangimu walau tak sedikitpun tersudut senyum di bibirmu.
Aku sanggup.
Jika harus berkali-kali di tampar oleh kata-kata mu yang tak pernah mau menerimaku.
Aku terima...
Jika kau terus-menerus menyuruh ku untuk pergi tinggalkan mu dan jangan pernah kembali.. katamu!
Andai kabar besar itu datang tanpa diundang, asaku tetap luluh lantak menyambut hari bahagiamu.
Saat kulihat bidadariku marah, pondasi cintaku pun runtuh dalam sekejap dan Menyisakan puing penyesalan yang mendalam.
Wahai bidadariku.
Dengarlah harapan dari sisa keyakinanku.
Ku ingin cinta kita sekuat karang.
Jangan biarkan rindu terkikis.
Jangan biarkan harapan kita menipis.

Dewasa adalah tujuan utama mencari jiwa agar mudah diberi nama.
Terkadang maknanya sedikit salah, melampaui kisah sedikit resah.
kini aku sudah tak biasa, kini aku sudah tak merasa bersama mereka disela lara.
hidup di pinggir kota berbagi cerita bersama di teman lama.
kini aku berkaca, bukan saatnya aku bercanda.
Tersentak, terbangunku dari lelapnya tidurku.
Peluh banjiri tubuh lelah ini, fikiran berkecamuk, desak ingatan akan mimpiku barusan.
Air mata pun tak dapat kubendung hati bagai tercabik cabik, luka begitu dalam yang sedang kualami terbawa mimpi.

Ku ingin beristirahat
Karna tubuh ku sudah terlalu penat, mataku pun sudah terlalu berat dan tak sanggup lagi untuk menatap.
Biarkanlah aku tertidur.!
Biarkanlah semua masalahku hancur dan jangan pernah bangunkan aku, disaat mimpi indah menemani tidurku dan disaat Mimpi indah mewarnai kehidupanku.
Tak perlu risau karna aku akan tetap hidup bersama rasa meski diperkosa oleh mimpi.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...