Rabu, 18 September 2019
KUBURAN RINDU
Segenap jiwa mengheningkan cipta
Menunggu angin membawa kabar gembira
Darimu ku belajar bercinta
Tanpamu ku merasa gundah
Aku bukan pelantun irama
Apalagi pembuat melodi indah
Aku hanya sayap surya yang merindukan cahaya purnama
Dersikan ombak memukul samudra
Membawa mimpi menuju angkasa
Langit terus menampung derita
Mendengar suara dari burung cemara
Ada sejarah yang terus terurai dalam cerita.?
Yah.. Kurasa tidak.!
Sebab sejarah telah tertutup oleh aroma pantai ampena
Aku bukan laut penampung sampah muara
Aku juga bukan pantai penampung derita
Akulah manusia penuh dengan dosa yang sedang merindukan kata bahagia
Seruling dunia telah dimainkan oleh pemilik kopmleks singaraja
Itu petanda bahwa ada yang sedang merasa tersiksa
Cintamu cintaku hanya cinta-cintaan
Seperti kuda yang sedang dikendarai dalam arena balapan
Wajah merona memberi aroma
Membuatku luluh dalam susana
Aku tak pandai merangkai kata
Hanya mampu bersuara lewat pena
Dalam hening penuh derita
Ku rangkai kata bersama luka
Adakah jalan untuk menuju roma
Agar ku temukan kasih yang seirama
Terminal kasih menerima untuk kau singgahi
Tapi tak rela untuk kau tinggal pergi dan menyimpan kenangan bersama luka
Jeritan penumpang terdengar riuh di setiap sudut pangkalan
Itu petanda resahnya rindu ini ingin bertemu
Tertati ku terharu Ingin meraih bintang tapi tak mampu
Semerbak harum bunga melati
Menambah haru pada jiwa menanti
Diam dengan Seribu derita hanya mampu menunggu cerita
Lautan api membakan jajaran pulau malaka
Memberi pukulan pada jiwa yang sedang merana
Teropong masa depan telah terbuka
Pemantik-pemantik kata mulai bersuara
Menunggu cahaya memberi petunjuk menuju surga
Bibir ini dapat membohongi rindu
Tapi rindu takkan pernah membohongi ruang dan waktu
Terimalah sajak ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Hancur hati ini melihat semua gambar diri yang tak bisa ku ulang kembali
Segala cara telah ku coba
Agar ku bisa tanpa dirimu
Namun, semua berbeda.!
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu.
Indah lentik matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu
Membuatku terbuai dalam peson mu
Berkali kali ku coba melepas semua beban rindu
Tapi tak mampu dan berujung pilu
Andai waktu bisa menjawab
Ku ingin bertanya apa aku telah bahagia
Ku rasa sang waktu jika bisa menjawab diapun tak ingin bersuara
Melihat derita yang tak kunjung usai
Salahkah jika ku tinggal pergi.?
Dosakah ku lepas diri.?
Entahlah.!!
Aku juga tak mengerti tentang cerita ini
Cerita yang menjebak ku dalam ruang tak berapit
Dan cerita yang membuangku dalam jurang kehancuran.
Pondok luka beri ku ruang untuk kuburan rindu
Agar ku kubur rindu ini bersama asmara lama.
Penulis : Kiliman Ariansyah
Minggu, 15 September 2019
BENDERA ISTIMEWA

Tentang irama materi menghiasi hati dan pikiran ini, membuatku berimajinasi menembus batas kesadaran.
Istimewamu bukan hanya beri ilusi
Istimewamu bukan hanya beri opini
Tapi istimewamu adalah harga diri yang harus kami jaga dan kami rawat seperti diri sendiri.
Kamu bukan hanya lambang yang menjadi pembeda dari lambang-lambang yang ada.
Hijaumu mengajarkanku bahwa hidup butuh perjuangan dan pengorbanan.
Ku janjikan pada diri ini untuk tetap menjunjung tinggi nilai marwahmu.
Dan ku janjikan pada dunia untuk berdiri di atas lafas yang kau tanamkan pada jiwa dan raga ini.
Campuran warna kesempurnaan hijau hitam telah melekat dan menyatu bersama sukmaku.
Kamu bukan hanya warna yang menjadi pembeda dari warna-warna yang ada, Tapi kamulah jati diriku yang sesungguhnya.
Aku bisa berdedikasi berkatmu, Aku bisa memberi edukasi berkatmu, Dan aku bisa berekspresi karnamu.
Hitammu membuatku sadar bahwa gelap tak selalu suram. Akan ada jalan disetiap kesulitan, dan akan ada satu pintu yang terbuka dikala pintu-pintu dunia tertutup untukku.
Mimpiku indah jika membelaimu sebelum tidur.
Ku terbangun dikala irama mu dilantunkan oleh para kadermu.
Dan ku menangis jika melihat keterpurukanmu.
Hijau hitamku...
Kaulah nyawa dari segala nyawa.
Kaulah harta dari segala harta.
Kaulah cahaya dari segala cahaya.
Dan kaulah wadah dari segala wadah.
Sebab engkaulah pemantik dari semangat yang ada di setiap jiwa-jiwa kadermu yang tersadarkan akan penuh nilai.
Teropong masa depan telah terbuka, Pemantik-pemantik kata mulai bersuara, dan cahaya menuju surga telah nampak dalam ruang tak bertepi.
Aku, dia, dan mereka bisa membuka cakrawala yang tertutup semua itu berkat edukasi yang telah engkau tanamkan.
Singkirkan semua benalu yang membuat nafas tertati dalam ruang tak berapit.
Jayalah himpunanku.
Dari sejarah ke sejarah terus bercerita tentangmu.
Tentang sejuknya IMAN mu.
Tentang dalamnya ILMU mu.
Dan tentang ramahnya AMAL mu.
Aku sulit menemukan kalimat yang tepat untuk memujimu.
Jagat raya telah bersabda menyanjung namamu.
Langit telah berdoa untuk keselamatan kadermu.
Bumi mengikrarkan dirinya dan bersedia untuk kau berkibar diatasnya.
Seluruh isi alam semesta senantiasa berzikir memuja namamu.
Sembah sujud menuai air mata mengiringi langkah para pejuang muda.
Darah yang mulanya beku karna hambatan, kini telah kembali mengalir mendengar lantunan darah juang panah himpunan.
Kalimat Allah telah didengungkan, keringat menetes bukan halangan.
Dir Dar Dor bunyi tembakan, sedikitpun tak membuatku surut dalam gerakan.
Itu semua berkat ilmu dan keberanian yang telah kau titipkan.
Jika bukan tanpamu, aku tak tau kemana arah negara ini berpijak.
Dalam hujan tangis perbedaan.
Tokoh masyumi bisa duduk manis dengan tokoh nahdatul ulama berdiskusi kesejahteraan.
Dalam himpunan mahasiswa islam dalam kristis nasionalis, tokoh muhammadiyah dapat bersulang teh manis sembari bertukar pikiran dengan tokoh persis.
Sebab dalam himpunan mahasiswa islam, tokoh manapun, organisasi apapun, bahkan dengan tokoh nasionalis sekalipun bisa berpelukan mesra bahkan lebih mesra dari sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta.
Himpunan mahasiswa islam mengajarkan bagaimana membangun negara ini dengan benar.
Himpunan Mengajarkan menghargai prularisme dan kebinekaan.
Himpunan mengajarkan tentang bebas merdeka asal tidak melanggar hak orang lain.
Apapun bentuknya, apapun warnanya, apapun agamanya, atau apapun itu, semuanya merupakan kader-kader bangsa.
Sebab tidak ada kata saling mengkafirkan karna kekuatan intelektual menjadi rujukan utama.
Ramai menyeruak membela kebenaran.
Berani bersuara lewat aksi hancurkan tirani.
Bersama hancurkan karang pemisah antara kita dan mereka.
Bersama raih kemenangan dan mewujudkan cita-cita mulia bangsa dan negara.
Dan kita sebagai mahasiswa rugi rasanya jika hanya diam terpaku mengikuti alur waktu perkuliahan.
Mari berhimpun bersama kami dan menjadi bagian dari jiwa kami.
Mari berproses demi kemajuan dan persatuan bangsa dan negara.
Mari berHMI agar kita temukan jati diri yang sesungguhnya.
Hidup mahasiswa.!
Jayalah HMI.!
Penulis: Kiliman Ariansyah
Rabu, 11 September 2019
MERETAS JALAN MENUJU IMPIAN
Sudah sangat jauh jalan yang telah ku tempuh, banyak kisah yang dilalui.
Ada tangis dan tawa, ada susah dan senang.
Tapi tak ada satupun yang bisa megurungi niat ku untuk mengekspresikan diri dalam panggung sandiwara ini.
Kan ku lukiskan sejarah ini dikala ku tua nanti dan akan ku ceritakan pada generasiku kelak.
Kau mungkin mengenalku lewat nama dari tinta pena.
Kau mungkin melihatku lewat sebutan warna.
Dan kau juga mungkin mendekatiku karna goresan luka yang telah digoreskan oleh sejarah lama.
Percayalah..!!
Aku bukan imajinasi yang pandai beri ilusi, aku bukan opini yang hanya bisa berikan janji.
Tulisan ini yang akan menjadi saksi bahwa aku bukan pecundang rasa dalam mimpi.
Sejuknya udara kipas hanya mampu menyejukkan raga tapi sejuk udara kasihku dapat melepaskan dahaga.
Bintangku, dapatkah kau berikan bukti bahwa rasa ini tidak sendiri.?
Ku harap kau mengerti tentang kasih yang ingin ku gapai lewat mimpi dijalan ini.
Ragaku ada disini bersama kesendirian dimalam ini, tapi rasaku masih terpenjara bersama mimpi yang belum mampu kuraih.
Belahan samudra telah menyatu menjadi satu untuk menyaksikan jalan yang telah ku retas demi meraih kasih sucimu.
Aku bukan legenda usang yang hanya dapat menyimpan penyesalan, Tapi akulah petarung rasa yang bermimpi mengapai bintang dilangit yang tinggi.
Indahmu bukan menjadi capaian dalam mimpi, tapi kasihmu lah yang menjadi harap dari mimpi.
Aku tak mengerti tentang keindahan materi, aku hanya mengerti tentang keindahan cinta sejati.
Malam, berikanlah petunjukmu agar dapat ku petik bintangmu.
Angin, bawalah rinduku menjelma bersama sejukmu agar dia dapat merasakan tulusnya rasa ini untuknya.
Bulan, apakah tulus dalamnya rasa cintaku tak cukup meyakinkan bahwa rasa ini benar-benar suci untuknya.?
Yah.. mungkin iya atau bisa jadi tidak. Aku tak mengerti.!
Dari ribuan kenyataan yang sudah ditentukan oleh sang illahi, satu yang tak bisa ku terima, yaitu bintang harapan pergi tanpa cerita.
Aku tau kau memang orang yang ada, aku tau kau punya segalanya.
Bukan berarti keadaan ini yang membuat kasihmu susah untuk ku miliki.
Dambaan sejati masih dipelupuk mata, tapi kasihku telah menembus dan merajut sukma bersama mimpi dalam rasa.
Mengertilah.!!
Akulah perunggu hina yang merindu kesempurnaan cinta.
Akulah tanaman layu yang ingin disirami air suci dengan basuhan kasih putih.
Akulah sang embun yang ingin ada mesti mentari telah tiba dan menyinari dunia.
Aku akui bahwa meretas jalan menuju impian itu butuh perjuangan dan pengorbanan.
Wangimu masih membekas dibaju ini, membuatku terpaksa untuk meneteskan air mata.
Dapatkan kau rasakan derita ini.?
Derita yang menginginkan dirimu ada disisi dan mendekap dalam relung hati.
Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya.
Aku terluka tak bisa dapatkan kau sepenuhnya.
Meski ku tau kau tak menginginkanku ada, aku tetap bertahan untukmu demi rasa ini.
Penuli : Kiliman Ariansyah
Senin, 09 September 2019
BUNGA DITEPI JURANG
Meski pertengkaran hebat sering terjadi, ku yakin aku selalu dihati.
Walau konflik sering kali menghampiri, percayalah.!
Kau tetap selalu dihati.
Aku percaya dunia hanya beri janji sementara dan cintalah yang mengabadikan segala.
Kekurangan materil tidak menjamin hidup akan menderita sebab Cinta tak butuh materil.
Materil hanya hiasan dunia.
Ku janjikan pada diri ini untuk mengenalmu lewat ketidak mampuan bukan kemampuan.
Hidup ini indah jika dinikmati adanya
Hidup ini nyaman jika di rasakan adanya
Hidup itu surga jika diyakini kemuliaannya
Sebab hidup adalah pilihan dan pilihanmu yang menentukan hidupmu.
Tidaklah elok jika bunga yang dirawat sekian lama layu begitu saja
Sebab untaian selalu menanti seikat senyumnya yang sangat ramah nan manja.
Wahai bunga, aku titip aromaku dalam mimpi agar dapat kau hirup wanginya dikala terbangun bersama embun pagi.
Keindahan dunia bukanlah tujuan hidup
Kemegahan tahta bukan pengakuan diri
Berlimpah harta bukan alasan untuk hilangkan namanya dalam dekapan jiwa.
Hadirkan lah namanya dalam setiap denyutan nadi agar dapat kau rasakan cintanya yang sangat tulus.
Ku tanam mimpi bersama impian
Ku kejar impian bersama harapan
Kuraih harapan bersama cintanya yang telah tulus menemani dan mendampingi di setiap jiwa dilanda keresahan.
Harapan itu mungkin mampu ku raih, Tapi jiwa ini tetap merasa resah karna bunga yang nenjadi harapan menanti dipinggir jurang.
Ketakutan terus melanda
Imajinasi terus memuncak
Haru dan tangis pun tak kunjung berhenti melihat sibunga dalam ancaman penjara jurang yang curam yang setiap saat bisa merenggut harapanku yang telah dibangun lama.
Aku sadar bahwa dunia adalah panggung sandiwara.
Satu hal yang saya pelajari dalam hidup.
Kamu bisa menjadi penting bagi seseorang, tapi tidak untuk setiap saat.
Dan ketika hal ini terjadi semua bisa berubah menjadi garang dan sadis.
Karna perlu dipahami.
Orang jahat berawal dari orang baik yang disepelekan.!
Penulis : Kiliman Ariansyah
Langganan:
Komentar (Atom)
Demokrasi Sumber Geopolitik
penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...
-
KKN (Kuliah Kerja Nyata), merupakan sebuah program pengabdian mahasiswa pada masyarakat setara 2 sks yang wajib diikuti oleh seluruh maha...
-
Begitu banyak hal yang ingin aku tuangkan dalam secarik kertas, tentang apa saja yang yang mampu dipandang mata dalam realitas. Mulai d...


