Selasa, 31 Desember 2019

Bunga Derita



Dalam kesendirian terlukis raut wajah penyesalan, aksara berhamburan, hati kian membisu dalam kehampa'an.
Terbius aku dalam sepi.
Menatap kelam tanpa arti.
Terhempas diriku saat berlari mengejar angan dan mimpi-mimpi.
Lupakanlah puisi indah yang telah tercipta, biarkanlah baitnya lenyap seiring masa.
Ma'afkan aku dengan segala ego yang ada, sehingga kini telah tercipta kisah yang sirna.
Kunikmati kesendirian diujung senja bersema semilir angin menyapa.

Hanya sekedar menikmati seutas senyum dari pudar imajinasiku.
Menghayalkanmu dalam dunia fantasiku, bersamu adalah waktu yang akan selalu ku kenang.
Tanpamu adalah fase terburuk dalam hidupku. Namun, aku bersyukur karna telah mengakhiri derita ini.
Kehilanganmu membuatku seakan berjalan dalam gelap. Namun, disaat itupun terang telah datang dengan cerita indah.
Ku maknai arti cinta dalam renungan, Cinta bagiku adalah ketulusan
Mengihlaskan saat cintanya bukan lagi milik kita Dan melepaskannya saat tak lagi bahagia bersama.

Barisan batang-batang ketegaran mulai rapuh. Menggilas tanaman pencegah erosi hati tertanam ratusan tahun yang lalu, merah menyala api angkara melunakkan angkuh yang ku pertahankan sekian lama.
Masih bisa ku hirup sedikit aroma tanjung di lengan yang kau genggam sebagai salam, Bau yang halus mengetuk pintu dengan licik.
Sedikit tanjung yang berpadu dengan tubuhmu menjadi panah dengan racun yang mematikan menancap.

Aku bermusuhan dengan hari ini  selamanya, Ketika kerajaanmu mulai mendeklarasikan kemerdekaan tanpa aku sebagai rajanya.
Seolah penghianatan yang menjadikan aku buronan sehingga menang seketika, Aku membangun istana itu dan kau bertahta tanpa aku disana.
Rajutan memori kiaskan kebodohan yang tidak pernah suram, Kita selamanya adalah katamu untuk menusukku mati. Lincah tak berjejak, Mencekik tanpa tenaga, Melukai tanpa terkena darah.

Dingin kabut masih menyelimuti undukan bumi tertinggi, ditempat itu sepenuhnya aku membenamkan diri.
Langit yang tadinya cerah seolah ikut mengerti kalut dalam hatiku
Perlahan ia ikut murung dan mengundang awan gelap untuk ikut berpesta pora. Sebentar lagi akan ku turunkan badai bisiknya.
Seperti roket kau melesat hilang
Dengan satu kali sentuh menembus awan bergumpal, Sebelum hirupan nafas ku keluarkan kembali secepat itu kau berpamitan pergi.

Aku ingin coba sekali lagi, bisikku
Tanpa menoleh kau sudah lagi tak bisa ku peluk dalam pandangan.
Kapan air mata akan mengering?
Aku tak tau, mungkin esok atau tidak sama sekali.
Aku tidak mau tumbuh besar dengan derita, aku hanya ingin bahagia seperti mereka. Lirih memohon kepada langit, aku berharap selamanya tak pernah bertambah usia agar derita usai.
Tanpa balasan aku hanya menganggap nikmat adalah sebuah hak, seperti keharusan bahagia harus aku terima.
Hidupku tidak hanya diperuntukkan untuk isi cerita hanya mengenai aku dan air mata yang berhasil ku usap kering.

Mengenai senyum masam yang ku jadikan semanis sakarin, harusnya ku torehkan senyum mereka yang aku lihat
Nafas tanpa ari mencekik membuat aku mati. Dulu kami selamanya bersama
Menjalani hari-hari dengan penuh warna, bersenda gurau di bawah cerahnya rembulan.
Semua tentangmu, sudah saya ketahui dan tak tersedia rahasia yang kusembunyikan lagi darimu
Karena saya begitu yakin denganmu.
Namun..
Kini semuanya cuman bayangan semu, bayangan yang membawa bencana dalam cerita dan kini Semuanya cuman kenangan, kenangan yang terkubur dengan derita bersama kehilangan.

Biarlah semuanya terjadi
Karena barang kali ini adalah yang terbaik. Semoga kau mendapat daerah yang indah, bahkan lebih indah dari seluruh kenangan kita.
Penerangan, Apa kau sedang mengejekku.?
Kuharap tidak, sebab semuanya telah usai dan menjadi harapan lalu.
Dunia hanya panggung sandiwara, siapa yang pandai bersandiwara dia yang memenangkan dinamika.
Biar waktu yang akan menjawab cerita. Untuk saat ini biarkan derita yang mengiasai jiwa.

Penulis :  Kiliman Ariansyah

Demokrasi Sumber Geopolitik

penyelenggaraan kekuasaan secara konsekuen mesti dijalankan berdasarkan normalitas prinsip demokrasi. Pemisahan wewenang, check and bal...